Cuma Weekend

Sudah pekan ketiga ternyata. weLL, saya baru nulis lagi. Maklumlah, kemarin2 dunia nyata lebih menarik untuk dijalani, hehe. Gak lah, kemaren itu kurang lebih 2 pekan Ibu saia datang menjenguk anak kesayangannya. Eh ada kakak sy juga ding, tapi cuman 3 hari. Jadi waktu sy lebih banyak bersamanya daripada memandang hampa ke arah lepi jadulku. Jalan2, blanja blanji, kondangan, silaturahim ke rumah keluarga disini, wew…
FYI, Kemarin pagi beliau sudah pulang.

Padahal banyak yg ingin tertuliskan sebenarnya. Ada beberapa kejadian yg memaksaku untuk segera menuliskannya. Tentang kedatangan SK pengangkatan yang sungguh tak terduga, tentang tragedi Bom di hotel JW Marriot, tentang batalnya kedatangan MU kesini, tentang Heripoter dan temannya, tentang pasangan Teuku Ryan dan Vira Yuniar yg denger2 ga jadi cerai, dan banyak lagi. Tapi begitulah, waktu terasa lebih berharga untuk kuhabiskan dengannya. Continue reading “Cuma Weekend”

Datang dan pergi

30 Juni…… Waa… ini sudah tanggal 30 yak? Wew, sudah akhir bulan lagi ternyata. Padahal masi ingat awal bulan ini adalah my Day. Hmmm…. Akhir bulan Mei lalu saya membuat tulisan dengan me-review teman2 yg berulang taon di bulan itu. Kalo sekarang nulis dengan tema yg sama, koq rasanya tidak kreatif yak? Tapi saya ingin menulis. Saat ini. Melepas kepergian Juni, dan menyambut kedatangan Juli. Tapi apa temanya? Saya pun tidak tau. Saya Cuma rindu menulis. Merangkai kata2 menjadi lebih bermakna. Kemarin sudah ditegur sama salah seorang teman…

”Kenapa ndak ada tulisan barunya? Apaji…”

Iya. Memang tidak ada. Liat2 blog dan notes di FB, postingan terakhir sudah lewat sepekan. Huhh… Lagi-lagi teringat dengan quote dari Pramoedya Ananta Toer.. Continue reading “Datang dan pergi”

Sepenggal cerita senja

Labu’ni essoe, turunni uddanie….

Itu nyanyian Bugis kalo tidak salah. Tapi tidak tau lengkapnya seperti apa. Artinya ketika matahari telah terbenam, maka rasa rindu akan menghampiri. CMIIW

Ia jarang menikmati senja. Biasanya ia masih berada di jalan sepulang dari kantor, biasanya ia baru saja bersih2, mandi sore dan bersiap untuk menyambut maghrib. Tak jarang pula ia masih berada di kantor, jika pekerjaan masih tersisa.

Tapi kali ini, ia berada di rumah (tepatnya kos2an) ketika senja menjemput. Entahlah, rasanya ada yg lain dengan senja ini. Perlahan ia beranjak ke teras rumahnya. Mencoba menikmati pemandangan yg tersaji didepannya. Ugh.. Cuma ada lalu lalang kendaraan. Dan lagi-lagi pikiran membawanya melintasi pulau, singgah di sebuah rumah di suatu daerah yg berjarak 200 km dari Makassar. Ya. Rumah itu. Yang selalu dirindukannya. Dulu, sore menjelang senja selalu menjadi saat2 favoritnya. Bisa berkumpul, bercengkrama dengan orang2 tersayang. Sambil menikmati teh hangat dan kadang2 penganan buatan ibu. Bercerita tentang hari itu. Tentang hal2 yang ditemuinya, tentang apa saja, yang menarik untuk dibicarakan.
Ah… betapa jauhnya ia kini berada. Betapa inginnya ia selalu berada di rumah itu. Di tempat dimana ia tak pernah kehabisan kasih sayang. Continue reading “Sepenggal cerita senja”