Berdamai dengan Masa Lalu?

Beberapa hari yang lalu sy melakukan perjalanan ke luar kota. Sementara di perjalanan, untuk mengusir kebosanan sy menyetel MP3 player, karena ga tau kenapa kalo membaca selama di mobil saya malah pusing. Ketika sedang menikmati setiap lagu2 di MP3 player sayah, tiba2 secara random mp3 itu memutar lagu lama, lagu yg –jujur- tidak ingin saya dengar untuk saat ini, karena mengingatkan akan sebuah hal tidak mengenakkan yg pernah terjadi. Spontan, sy menekan tombol ”next”, sambil sibuk bertanya2 dalam hati, koq bisa ya lagu itu masih ada di playlist? Perasaan sudah sy hapus dulu.

Dan semalam, dari tivi punya ibu kos sy terdengar lagu lain -yg juga lagu lama. Emm.. juga mengingatkan akan suatu kejadian lain siy, tapi kali ini sy masih bisa tersenyum2 kecut, mendengar sayup2 lagu itu dari dalam kamar. Walopun jujur, kalo boleh milih tetap tidak ingin mendengarnya

. Continue reading “Berdamai dengan Masa Lalu?”

Seiris Cerita Miris

Seperti biasa, hari ini saya di kantor. Dan tadi pagi itu saya dipanggil si boss untuk  mengolah data di komputernya beliau. Ketika sedang bekerja itu, tiba2 dy membuka  percakapan. Anaknya, anak satu2nya, yg bekerja dan ditempatkan di luar Jawa, akan pulang wiken ini. Saya hanya menyambut dengan basa basi biasa
”wah, seneng dong pak. Bisa wiken di rumah”
Tapi ternyata tidak berhenti di situ. Atasan saya ini tampaknya sedang ingin bercerita banyak tentang anak tunggalnya. Dan berceritalah dy.

Dan disinilah salahnya. Cerita seorang Ayah tentang anaknya buat saya terasa seperti membuka memory lagi tentang dia yg juga telah pergi. Dia, yang juga kupanggil Ayah. Dia, yg sudah lebih dulu menghadap-Nya.
Atasan saya bercerita bahwa dia sering menghabiskan waktu berdua saja dengan anaknya, membicarakan dan sharing banyak hal. Ayah saya juga dulu seperti itu. Continue reading “Seiris Cerita Miris”

Ajari kami…

Alangkah indahnya hidup ini |Andai dapat kutatap wajahmu | Kan pasti mengalir air mataku | Kerna pancaran ketenanganmu
Alangkah indahnya hidup ini | Andai dapat kukecup tanganmu | Moga mengalir keberkatan dalam diriku | Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulullah Ya Habiballah | Tak pernah kutatap wajahmu | Ya Rasulullah Ya Habiballah | Kami rindu padamu | Allahumma Sholli Ala Muhammad | Ya Rabbi Sholli Alaihi Wassallim

Alangkah indahnya hidup ini | Andai dapat kudekap dirimu | Tiada kata yang dapat aku ucapkan | Hanya tuhan saja yang tahu
Kutahu cintamu kepada umat | Umati Umati | Kutahu bimbangnya kau tentang kami | Syafaatkan kami

Ya Rasulullah Ya Habiballah | Terimalah kami sebagai umatmu | Ya Rasulullah Ya Habiballah | Kurniakanlah syafaatmu

(Ya Rasulullah – Raihan)

Continue reading “Ajari kami…”

Still about AB 2010 : Behind the Scene (2)

..Lanjut.

Ternyata kata2nya pemuda yg baik hati itu ga smuwanya betol. Katanya setengah 6. Mana? Yang ada juga nyampe di Jatinegara udah hampir jam 7. Langsung mandi di kamar mandi stasiun *dengan kondisi kamar mandi seadanya*. Oia, makasi bet untuk mas Iqbal atas pantauannya bantuannya. Udah repot2 juga nungguin di Jatinegara. Sayangnya gag ikutan Amprokan yak 🙂

Waktu beli tiket KRL ke Bekasi, nanya sama petugasnya, ”kira2 keretanya datang jam brapa ya pak?” Dijawab ”gak lama lagi koq mbak, paling 10 menit lagi. mbak nunggu aja di peron 1 atau 5”

Continue reading “Still about AB 2010 : Behind the Scene (2)”

Road to AB : Behind the Scene (1)

Nekat

Semuanya berawal dari kata itu. Nekat mengiyakan ketika diajak ikut acara Amprokan Blogger oleh bapak Linux yg satu ini. Nekat mendaptar di situs acara itu di sini. Nekat mereply sms dari mbak Ratu, salah satu panitia Amprokan Blogger kalo sayah tidak nginap, kerna mw nginap di rumahnya si Alli. Nekat, bahkan ketika belum yakin ada dana untuk dialokasikan ke sana, mengingat sepekan sebelumnya saya harus pulang ke rumah. Dan tidak seperti yg terlihat di peta, jarak Surabaya-Sinjai itu tidak dekat, komandan. Dan pula, seperti yg pernah kita pelajari di matrematika entah jaman kapan, bahwa jarak berimbas pada biaya transportasi. Beuww…

Waktu saya pulang pun, saya blom memastikan sama Ibu bahwa saya jadi berangkat. Cuman bilang, ada acaranya teman pekan depan di Bekasi. Sama siapa, acara apa itu, berapa hari, dan beribu berbagai pertanyaan Ibu tidak terlalu saia tanggapi serius, karena toh blom cencu juga berangkat.

Continue reading “Road to AB : Behind the Scene (1)”