Film : The Mirror Never Lies

Kemarin saya menonton film dengan judul di atas itu. Film Indonesia, karya Kamila Andini, yang ternyata putri dari Garin Nugroho. Keindahan dan greget dari film ini membuat sy ingin sedikit menulis tentangnya.

Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Pakis (Gita Lovalista) yang selalu merindukan sang Ayah. Menurut cerita, sang Ayah hilang di lautan, ketika sedang bekerja menangkap ikan. Ibu Pakis, Tayung (Atiqah Hasiholan) sudah berulang kali meminta Pakis untuk tidak lagi menunggu2 ayahnya, tapi Pakis tetap bersikeras. Ia bahkan selalu mengunjungi “sanro” (dukun) untuk bertanya tentang keberadaan ayahnya, sambil selalu membawa cermin pemberian ayahnya. Pakis selalu ditemani oleh sahabatnya yang bernama Lumo (Eko) dalam pencarian ayahnya ini.
Kemudian muncul Tudo (Reza Rahadian) seorang peneliti lumba-lumba dari Jakarta, hadir di kehidupan ibu dan anak ini. Akankah akhirnya Pakis menemukan ayahnya? Continue reading “Film : The Mirror Never Lies”

Ebook : TUNAS

Dulu, waktu sy masih SD, sy sering main ke rumah sepupu sy yang berlangganan majalah Bobo. Dan tiap kali membacanya, yang sy buka pertama kali pasti kolom cerita pendek atau dongeng.
Selain itu, kakak perempuan sy yang waktu itu sudah kelas 1 SMA sering membawa majalah remaja dari sekolahnya. Ada Aneka Yess!, Anita Cemerlang, Kawanku, Gadis, dan masih banyak lagi. Ndak tau sekarang apa majalah2 itu masih eksis atau gimana. Begitu juga majalah2 ini, yg sy buka pertama kali adalah kolom fiksinya. Dari situ awalnya sy mulai suka membaca fiksi.

Yah, kesukaan sy pada fiksi awalnya pernah menginspirasi sy untuk membuat jenis tulisan yg sama. Tapi, pertama kali membuat fiksi, -cerpen tepatnya- malah tidak kunjung selesai2. Sy bingung bagaimana menyelesaikan konflik yg sy ciptakan di cerita itu. Ceritanya kemudian berputar2 disitu2 saja, sampai sy sendiri bosan membacanya (LOL) Continue reading “Ebook : TUNAS”

Habibie-Ainun. Bukan Cerita (Cinta) Biasa

..melihat hasil pemungutan suara tersebut, di wajah mereka terlihat perasaan kecewa. Namun keheningan suasana tersebut tidak berlangsung lama, karena istri saya, Ainun bertanya. ”Selanjutnya, bagaimana sikap Bapak?” Saya dengan spontan menjawab ”Saya tidak bersedia untuk dicalonkan atau menerima pencalonan kembali sebagai Presiden”
Sebagaimana biasa, Ainun tanpa memberi reaksi. Apa yang saya katakan, ia terima dengan tulus. Pasrah pada keputusan yang saya ambil dan menganggap bahwa itulah yang terbaik bagi kami sekeluarga, membuat Ainun selalu menerima keputusan dengan tulus..

Itu salah satu penggalan tulisan Pak Habibie tentang Ibu Ainun.
Sebuah buku yang mengisahkan tentang kisah romantis sepanjang masa dari salah seorang putra terbaik yang dimiliki bangsa ini.
Buku ini mulai ditulis oleh Pak Habibie selepas kepergian Ibu Ainun tanggal 22 Mei 2010 kemarin. Diakuinya, ini salah satu terapi untuk mengatasi rasa kehilangan beliau.
Secara keseluruhan, buku ini menceritakan perjalanan hidup seorang Habibie sejak beliau mengenal Ibu Ainun. Continue reading “Habibie-Ainun. Bukan Cerita (Cinta) Biasa”

Film : Eat Pray Love

Kita sama-sama tahu bahwa Bali dan keindahannya sudah sangat terkenal di belahan bumi lain. Dan bagaimana jika ia tersaji dalam sebuah film sekelas Hollywood? Eat Pray Love, sebuah film karya Ryan Murphy yang diangkat dari kisah nyata seorang penulis bernama Elizabeth Gilbert. Film yang diproduseri oleh Brad Pitt dan menampilkan Julia Roberts sebagai pemeran utama ini mulai tayang sejak 13 Oktober kemaren.

Film ini bercerita tentang seorang perempuan Newyork yang memenuhi kriteria untuk dapat dikatakan sukses. Karir, harta, suami, dan rumah yang nyaman. Namun di suatu waktu ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Sesuatu yang tak dapat ia definisikan, apa itu. Tanpa alasan yang jelas, ia memutuskan bercerai dari suaminya. Di tengah proses perceraian itu, ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang dikenalnya melalui pertunjukan teater. Dan kembali ia menemukan bahwa hubungannya dengan pria ini tak layak diteruskan. Ia menjadi semakin desperado, dan akhirnya memutuskan untuk sejenak meninggalkan kota Newyork. Memilih Itali, India, dan Indonesia sebagai tujuan perjalanannya sampai akhir tahun.

Continue reading “Film : Eat Pray Love”

Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Sang Pencerah

Bismillahirrahmanirrahim..

Sang Pencerah. Akhir2 ini beberapa media masih ramai membahas tentang film ini. Berbagai review tentang film ini pun sudah dapat dijumpai di mana-mana, dengan persepsi masing-masing.

Tulisan di bawah ini tidak dimaksudkan untuk mereview film tersebut. Lebih kepada catatan (yang ternyata) panjang tentang segala hal yg berseliweran di otak. Sesuai dengan judulnya, tentang Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan film Sang Pencerah.

1. Mungkin sudah pernah kita pelajari di pelajaran SD dulu, bahwa Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah, salah satu Organisasi kemasyarakatan di Indonesia, selain Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai ormas yg concern terhadap bidang pendidikan dan sosial, Muhammadiyah sudah cukup membuktikan eksistensinya. Continue reading “Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Sang Pencerah”

Keluar Dari Zona Pribadi

Beberapa hari yg lalu secara ga sengaja nongton sinekrong KCB serial Ramadhan, pas di scene ada kang Abik yg lagi ngasih nasehat ke Anna. ”Masih banyak masalah umat yg jauh lebih penting untuk kau pikirkan daripada sibuk mengurusi hal remeh temeh”

Adegan ini membawa memory saya ke beberapa tahun yg lalu. Waktu itu saya masih mahasiswa, dan lagi ikut salah satu pelatihan yg diadakan oleh LDK di kampus saya.
Ada satu materi yg masih sy ingat, tentang perlunya bagi para Muslimah untuk terus memperbaiki diri. Kurang lebih pemateri itu bilang gini :

Perempuan adalah titik awal sebuah peradaban. Dari dirinya akan ditentukan sebuah keputusan, akan menjadi seperti apa kehidupan manusia yg muncul setelahnya. Apakah akan menjadi generasi Rabbani yg selalu siap mengumandangkan Kalimatullah, atau akan dipenuhi oleh orang2 yg mengingkari-Nya. Semuanya berawal dari kita. Continue reading “Keluar Dari Zona Pribadi”