Antara Lakon Demokrasi dan Mardhatillah

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat” [QS An-Nashr : 1-3]

Muqaddimah Surah An – Nashr :
Janji bahwa pertolongan Allah akan datang dan Islam akan mendapat kemenangan; perintah dari Tuhan agar bertasbih memuji-Nya, dan minta ampun kepada-Nya di kala terjadi peristiwa yang menggembirakan.

Tiba2 teringat dengan surah ini. Teringat akan air mata Sang baginda Rasulullah yang menetes hingga membasahi janggutnya ketika beliau tergugu saat menerima wahyu ini. Teringat akan pekik takbir ”Allahu Akbar” yang membahana ketika peristiwa Fathul Makkah itu mewujud nyata. Dan teringat akan peringatan Allah di surah itu. Perintah untuk bertasbih, memuji Rabb, saat kemenangan itu menjemput. Dan peringatan untuk beristighfar, sesungguhnya Ia Maha Penerima Taubat

Continue reading “Antara Lakon Demokrasi dan Mardhatillah”

Rencana Indah

ketika aku masih kecil, aku sering melihat ibuku terlihat sibuk seperti sedang mengerjakan sesuatu diatas sehelai kain. aku yang sedang bermain dilantai melihat ke atas lalu bertanya, apa yang sedang ibu lakukan?

Ia menerangkan bahwa ia sedang menciptakan keindahan di atas sehelai kain. aku bilang dengan polos padanya bahwa yang kulihat dari bawah justru adalah sekumpulan benang yang terlihat ruwet Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut Continue reading “Rencana Indah”

Yang Terlewatkan

Siang itu sy sedang menunggu kereta. Semarang-Surabaya. Saat memasuki ruang tunggu, aku sedikit kesulitan menemukan tempat duduk yang kosong. Dimana-mana banyak orang yang terbaring di tempat duduk itu, mengambil space yg cukup besar. Sebagian besar sedang lelap dalam tidurnya. Kuperhatikan dengan seksama. Orang-orang itu, hmm… memakai seragam, di belakangnya bertuliskan Kuli Angkut Stasiun Tawang Semarang. Oow… mungkin mereka yang menawarkan jasa mengangkatkan barang dari para penumpang Kereta Api.

Saya kemudian memilih mojok di salah satu tempat yg agak lowong, di sudut ruang tunggu. Keretaku masih 2 jam lagi. Kuletakkan ranselku disamping, dan mulai mengedarkan pandangan ke keadaan sekitarku, seperti kebiasaanku jika sedang menunggu. Memperhatikan orang2 yg lalu lalang di ruang itu. Biasanya hal ini membawa inspirasi sendiri dalam otakku. Banyak hal yang bisa dipelajari dari keadaan sekitar. Dari hal-hal kecil sekalipun.

Continue reading “Yang Terlewatkan”