Sepenggal cerita senja

Labu’ni essoe, turunni uddanie….

Itu nyanyian Bugis kalo tidak salah. Tapi tidak tau lengkapnya seperti apa. Artinya ketika matahari telah terbenam, maka rasa rindu akan menghampiri. CMIIW

Ia jarang menikmati senja. Biasanya ia masih berada di jalan sepulang dari kantor, biasanya ia baru saja bersih2, mandi sore dan bersiap untuk menyambut maghrib. Tak jarang pula ia masih berada di kantor, jika pekerjaan masih tersisa.

Tapi kali ini, ia berada di rumah (tepatnya kos2an) ketika senja menjemput. Entahlah, rasanya ada yg lain dengan senja ini. Perlahan ia beranjak ke teras rumahnya. Mencoba menikmati pemandangan yg tersaji didepannya. Ugh.. Cuma ada lalu lalang kendaraan. Dan lagi-lagi pikiran membawanya melintasi pulau, singgah di sebuah rumah di suatu daerah yg berjarak 200 km dari Makassar. Ya. Rumah itu. Yang selalu dirindukannya. Dulu, sore menjelang senja selalu menjadi saat2 favoritnya. Bisa berkumpul, bercengkrama dengan orang2 tersayang. Sambil menikmati teh hangat dan kadang2 penganan buatan ibu. Bercerita tentang hari itu. Tentang hal2 yang ditemuinya, tentang apa saja, yang menarik untuk dibicarakan.
Ah… betapa jauhnya ia kini berada. Betapa inginnya ia selalu berada di rumah itu. Di tempat dimana ia tak pernah kehabisan kasih sayang. Continue reading “Sepenggal cerita senja”