Fragmen Sederhana

Iya. Ini fragmen sederhana sebenarnya..

Pagi itu Ibu menelpon saya. Seperti biasa, tidak ada topik yang terlalu penting. Beberapa menit kami ngobrol, dari seberang sana seperti ada yang menyapa Ibu. Kata Ibu ternyata anak tetangga depan yg kebetulan masih sodara dekat dengan kita. Ibu diminta menghubungi balik ke salah satu sodara sepupunya yang ada di Makasar. Katanya Ibu dihubungi via hape tapi tidak bisa nyambung. Ya iyyalah, lagi nelpon saya ini kan 😀

Walo sempat heran dan bertanya-tanya ada apa kok tetiba dia diminta menelpon balik, tapi Ibu kemudian bilang ke saya ”ya sudah nanti telpon lagi saja”

Continue reading “Fragmen Sederhana”

Mirip Siapa?

Sejak saya masih kecil dan mulai bisa mengingat2 apa yang terjadi saat itu, saya sering mendengar orang2 bilang gini ke saya:

”wah, yang ini lebih mirip mamanya kayaknya”

”Marola di emmakna samanna eddi” (ini terjemahan bahasa bugis dari kalimat di atas)

Pernah juga waktu saya masih SD, kalo saya masuk pagi dan pulang jam 10, saya kadang dijemput trus dibawa ke kantornya Ibu. Teman-teman kantornya Ibu sering bilang gini :

”eh Puang Mawa bawa fotokopinya ini” atau

”ini siapa? Klise fotonya puang Mawa kayaknya”

Continue reading “Mirip Siapa?”

3 Tahun…

Saya hanya ingin mengenangnya dengan cara yang lebih baik.

Jadi entah dalam rangka apa, Ibu saya dihubungi oleh wakil dari kantor KPU di SInjai. Katanya, akan ada dana kepada para mantan anggota KPU periode sebelumnya. Eh pokoknya sejak KPU dibentuk, semua yang pernah jadi anggota dan ketua mendapat uang jasa atau mungkin semacam hadiah gitu.

Nah, semasa hidupnya Bapak saya pernah jadi anggota KPU ini. Berhubung beliau sudah meninggal, jadi dana itu akan diberikan kepada ahli warisnya. Kami tidak tau berapa nominalnya, sampai sekarang uang itu belum diterima oleh Ibu saya. Katanya administrasinya lumayan ribet, jadi musti nunggu beberapa waktu Continue reading “3 Tahun…”

My Cousin’s Wed

Hello, world!

Genap 2 bulan tidak menuliskan apa2 di sini.
Agustus pas Ramadhan, dan pas masuk kantor habis lebaran langsung dihantam sama garis mati di sana sini. Semua kerjaan itu harus saya selesaikan lebih awal, karena di akhir September sy kembali akan pulang ke rumah. Cuti 2 hari. Kakak sepupu saya –yg sudah sy anggap seperti kakak kandung sendiri- (akhirnya) menikah.

Akhirnya selama 2 pekan setelah lebaran itu saya selalu pulang malam, datang lebih pagi. Benar2 minggu2 yang mendebarkan. Belum lagi soal ijin dari atasan yang belum pasti dikasi atau tidak. Padahal dari jauh2 hari, bahkan sebelum Ramadhan saya sudah memberitau dia bahwa saya berencana cuti tanggal segitu, dan waktu itu dia sudah bilang iya. Eh tau tau pas menjelang harinya malah dihalang-halangi lagi. Huhh…
Tapi akhirnya cuti itu terpaksa dikasi juga, waktu saya bilang sudah beli tiket! Muhaha..
Dan sekarang sudah balik Surabaya lagi, aktivitas sudah mulai normal lagi, walo sebenarnya load pekerjaan tidak berkurang juga sih.. #sigh

Dan.. hei! Saya kangen kalian! Continue reading “My Cousin’s Wed”

Siteppai..

*judul di atas itu adalah bahasa Bugis*

Pernah merasa dunia ini begitu sempit? Ketika kita menemukan lingkaran2 pertemanan yang ujung2nya bertemu pada orang-orang yang sama. Misalnya teman SD kita dulu ternyata sekantor dengan teman kita semasa kuliah. Atau sodara sepupu kita ternyata berjodoh dengan teman kita semasa SMP. Sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. What a small world.

Saya sudah beberapa kali menjumpainya. Salah satunya ketika teman blogger saya, yang belum pernah bertatap muka dengannya, ternyata menikah dengan senior saya dulu di kampus. Continue reading “Siteppai..”

Ia (bukan) Orang Hebat

Ia bukan seorang yg hebat. Ia bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Tapi darinya sy belajar banyak. Tentang ketegaran, tentang menjadi kuat, tentang ketabahan, dan banyak hal tentang hidup. Yang tak ia sadari, karena sy mempelajarinya, tanpa ia pernah mengajarkannya secara khusus padaku.

Dan kali ini… ijinkan sy berkisah tentang sosok itu. Dari sedikit yg sy tau tentangnya.
Namanya Zainab.
Seorang anak yg terlahir dari keluarga yg biasa2 saja. Ia menikah di usia yg sangat muda. Mungkin karena ia tak disekolahkan oleh orang tuanya, membuat pilihan untuk menikahkannya menjadi dirasa tepat. Dengan seseorang yg tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Entahlah apa yg ada di pikirannya saat menerima perjodohan itu. Pernah sekali kutanyakan padanya, dia hanya tersenyum kecut sambil membuang pandangan ke arah lain. Continue reading “Ia (bukan) Orang Hebat”