Lupa Menikah

Sejak beberapa waktu yg lalu senior saia semasa di kampus tinggal bersama saya di kos2an. Beliau seorang Dosen, dan mendapat tugas belajar S2 di ITS. Sementara dia mencari kos2an sekitaran kampus, untuk sementara dy numpang nginap di kos2anku.

Di suatu malam, kami ngobrol2 tak jelas. Yeahh… 2 orang perempuan lajang yg sudah cukup umur untuk menikah ngemeng2 di tengah malam, you can guess what the topic, xixixi….
Sampe beliau mulai masup di bahasan sensi itu. Dia punya cerita gini… Continue reading “Lupa Menikah”

Sepenggal cerita senja

Labu’ni essoe, turunni uddanie….

Itu nyanyian Bugis kalo tidak salah. Tapi tidak tau lengkapnya seperti apa. Artinya ketika matahari telah terbenam, maka rasa rindu akan menghampiri. CMIIW

Ia jarang menikmati senja. Biasanya ia masih berada di jalan sepulang dari kantor, biasanya ia baru saja bersih2, mandi sore dan bersiap untuk menyambut maghrib. Tak jarang pula ia masih berada di kantor, jika pekerjaan masih tersisa.

Tapi kali ini, ia berada di rumah (tepatnya kos2an) ketika senja menjemput. Entahlah, rasanya ada yg lain dengan senja ini. Perlahan ia beranjak ke teras rumahnya. Mencoba menikmati pemandangan yg tersaji didepannya. Ugh.. Cuma ada lalu lalang kendaraan. Dan lagi-lagi pikiran membawanya melintasi pulau, singgah di sebuah rumah di suatu daerah yg berjarak 200 km dari Makassar. Ya. Rumah itu. Yang selalu dirindukannya. Dulu, sore menjelang senja selalu menjadi saat2 favoritnya. Bisa berkumpul, bercengkrama dengan orang2 tersayang. Sambil menikmati teh hangat dan kadang2 penganan buatan ibu. Bercerita tentang hari itu. Tentang hal2 yang ditemuinya, tentang apa saja, yang menarik untuk dibicarakan.
Ah… betapa jauhnya ia kini berada. Betapa inginnya ia selalu berada di rumah itu. Di tempat dimana ia tak pernah kehabisan kasih sayang. Continue reading “Sepenggal cerita senja”