Refleksi

Bisnis dan Jalan Keberkahan

Bismillah. Its gonna be a long post

***

2002. Waktu itu saya baru tamat SMA. Mendaftar di salah satu kampus ikatan dinas. Selesai tes, ada yg menghubungi Ibu saya. Menawarkan kepastian lulus dgn bayaran 10juta. Bayangan segera kerja setelah kuliah begitu menggoda. Tapi akhirnya kami tidak mengambilnya. Kurang nyaman rasanya memulai sekolah, pekerjaan dengan bayaran yang tak resmi di awal. Saya akhirnya lulus di Jurusan Teknik Elektro Unhas, dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan plat merah.

2008-2012. Di tahun-tahun ini suami sedang bergelut dengan hutang ratusan juta, karena kerjasama bisnis orangtuanya yang tidak berjalan baik. Saya belum bersamanya saat itu, tapi mendengar cerita-ceritanya, bisa terbayangkan sulitnya terjerat hutang tanpa tahu kapan bisa melunasinya. Di awal 2013 akhirnya hutang itu lunas. Beberapa bulan setelah itu kami bertemu dan dia melamar saya.

2014. Suami berhenti bekerja kantoran. Mau mulai usaha tapi Qadarullah Ibu mertua sakit dan akhirnya meninggal beberapa bulan setelahnya. Saya pindah ke Makassar. Kami menempati rumah cicilan. Ngos-ngosan mengumpulkan DP, menahan malu pinjam ke Mama. Ngos-ngosan lagi bayar cicilan rumah. Bisnis suami belum menunjukkan progress yg berarti saat itu. Kami pernah hanya punya uang 170ribu. Dan gajian masih lama. Sebelumnya 200ribu dipakai suami beli bahan sabun karena ada yang order. Bukan main senangnya saat itu kami mendapat orderan, sampai membelanjakan uang terakhir yang kami punya sebagai modal.

… …

2019. Be Clean, bisnis  yang kami rintis sejak 2014, Alhamdulillah dengan ijin Allah perlahan-lahan menunjukkan pertumbuhan penjualan. Sejak 2018 akhir sudah menempati workshop sendiri, karena garasi kami sudah tak memungkinkan untuk jadi tempat produksi.

Pelan-pelan kami mengurus perijinan. Ijin usaha, ijin produk kami usahakan. Proses perijinan ini membutuhkan waktu yang lama. Kami ke Dinkes kabupaten Gowa, diarahkan ke Pemprov. Kami ke Pemprov, berkas kami dicek, ternyata untuk skala bisnis kami perijinan cukup di tingkat Kabupaten. Kami kembali ke Gowa. Setelah proses yang berulang-ulang, Tim Dinkes akhirnya mengunjungi tempat produksi kami, dan Alhamdulillah ijin produk utama sudah kami kantongi. Detergen cair, pencuci piring, pengepel, dan sabun cuci tangan.

2020. Pandemik Covid-19 melanda seluruh dunia. Banyak pihak terkena imbasnya. Kami pun. Beberapa laundry langganan kami menutup sementara usahanya, yang tentunya berimbas ke orderan detergen cair kami.

Tapi tiba-tiba orderan sabun cuci tangan meningkat. Seiring anjuran untuk sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Produk yang selama ini tidak terlalu populer tiba-tiba jadi primadona. Alhamdulillah.

Penyebaran virus dalam waktu singkat ini kemudian pula menginspirasi kami untuk turut ambil bagian mengedukasi masyarakat tentang pentingnya cuci tangan. Kami membuat kemasan sabun cuci tangan 300ml untuk dibagi-bagikan ke masyarakat yang kurang terjangkau informasi. Selain itu juga kami mengirim ratusan sabun cuci tangan kemasan 5liter ke beberapa Rumah sakit dan layanan kesehatan yang kesulitan mendapatkan sabun cuci tangan dengan harga normal. Semuanya Gratis.

*** ***

Kita semua sepakat ini adalah kondisi yang tidak baik-baik saja. Kita mengupayakan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu agar wabah ini cepat berlalu. Tentu dengan kapasitas kita masing-masing. Kami sebagai produsen kebutuhan chemical kebersihan, menyediakan produk dengan harga yang normal. Dan membagikan produk kami ke orang yg tak mampu. Demi Allah, tidak pernah kami menaikkan harga berkali lipat untuk produk kami meskipun pernah langka di pasaran. Harga kami sama dengan sebelum wabah ini terjadi.

***

Sampai kemudian kami digerebek. Dianggap tak memiliki ijin. Ijin edar dari Dinkes kami perlihatkan, tak dianggap. Katanya tak cukup hanya dengan ijin edar. Kami bertanya harus ada ijin apa lagi? Tak ada jawaban pasti.

Ancaman penutupan tempat usaha mulai terucap satu dua kali. Berulang kali kami menghela nafas panjang. Ujian apa lagi ini Ya Allah.

Bapak-bapak petugas mendapati satu produk kami yang belum memiliki ijin. Kami akui. Karbol, yang bisa dijadikan disinfektan, memang belum memiliki ijin. Mengapa? Karena di awal produksi, produk itu tidak terlalu laku. Maka yang kami ajukan ijin produknya hanya yang memang produk utama kami, dan identik. Sama-sama sabun.

Lantas kenapa diproduksi jika belum punya ijin? Karena banyak yang mencari, Bapak Ibu. Semenjak pandemik ini produk itu jadi langka. Ada pun, tapi harganya sangat mahal. Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita meminta masyarakat menjaga kebersihan diri dan sekitarnya, jika produk-produk kebersihan ini tak terjangkau harganya? Jika ingin diperiksa cara pembuatannya, kami siap. Silakan. Kami pastikan kami membuat produk sesuai SOP yang semestinya. Kami juga menjalin hubungan yang sangat baik dengan lembaga SNI di Sulsel, kami melalui setiap proses yang disyaratkan agar dapat memiliki sertifikasi itu. Sekarang juga masih dalam proses. Tidak ada yang instan.

Dan untuk semua proses yang kami lalui itu, tiba-tiba kami ditunjuk-tunjuk tidak memiliki ijin. Illegal!!

Astaghfirullah.
Astaghfirullah.

Wahai Bapak-bapak yg terhormat. Jika kami salah, betulkan. Beritahu kami mana yang salah. Kami koreksi. Jika dengan kesalahan itu kami harus menutup sementara usaha kami, silakan. Sembari kami membetulkan apa yang salah, jika memang salah. Tidak dengan mengancam, wahai bapak terhormat.

Bisnis kami ini usaha kecil. Di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu, kami berusaha bertahan tetap menstabilkan harga produk kami. Kami menahan margin di titik terendah, agar tetap affordable bagi masyarakat. Kami membagi-bagikan produk ini kepada sebagian masyarakat tak mampu, karena kami tahu tidak semua orang terpikir untuk membeli ini. Jika uang terbatas, membeli kebutuhan pokok tentu lebih penting bagi mereka.

Ini adalah kondisi yang tidak biasa. Mari saling memudahkan. Semoga urusan kita juga dimudahkan oleh Allah.

***

Dan kepada bapak-bapak petugas yg mendatangi kami.
Usaha mikro kecil dan menengah menyokong lebih dari 90% perekonomian Indonesia. Kami memotong mata rantai jual beli yang sangat panjang sehingga harga menjadi berkali-kali lipat, menjadi harga yg terjangkau oleh masyarakat. Kemasan kami memang tak sementereng merk nasional. Tapi kami pastikan kualitas bisa bersaing pak. Kami membutuhkan support Bapak-bapak sekalian agar kami bisa bertahan. Agar ada orang-orang yang bisa mendapatkan pekerjaan dari usaha kecil kami.

Bagaimana kita berharap UMKM dapat bertahan dan bertumbuh jika kerap kali dipersulit, dicari2 celah kesalahannya, dicarikan pasal-pasal yang memberatkan. Bukan tidak mungkin pelaku usaha kecil seperti kami menjadi putus asa dengan perlakuan ini. Akhirnya akan ada output. Pelaku usaha yang menjadi sapi perah, atau sekalian saja berakhir dgn menutup usaha ini.

***

Seperti yang saya tulis di atas. Kami pernah ditawari cara yang tidak baik untuk mendapatkan sesuatu. Tapi kami tak ingin. Kami pernah tidak memiliki apa-apa, dan itu tidak apa-apa. Kami Alhamdulillah baik-baik saja. Jika kuota kepemilikan kami terhadap usaha ini pun sudah berakhir, sungguh kami tak apa-apa.

Bisnis ini adalah bentuk kesyukuran kami terhadap nikmat Allah SWT. Ini hanya wasilah untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya manfaat dan keberkahan. Jika jalan keberkahan itu sulit kami dapatkan lagi dari bisnis ini, kami bisa mencari jalan lain, dengan ijin Allah tentunya.

Mari sama-sama menjemput rejeki dengan cara yang baik. Ini bulan Ramadhan, semoga keberkahannya melimpahi kita semua.

Dunia ji ini cess.

***

Jangan pernah membenarkan yang biasa. Mari membiasakan yang benar. Terdengar klise mungkin di negeri 62 ini. Tapi mari kita dekap erat-erat harapan untuk menjadi bangsa yang lebih baik dan bermartabat.

2 Comments

  1. Innalillahi. Semoga segera selesai ya. Kadang serba salah ya. Mau bantu kok malah kaya gitu. *Peluk

  2. Illa dan suami yang sabar. Tujuan illa pasti baik, dan memang dalam kondisi darurat terkadang ada hal hal prosedural yang kerap dilewatkan demi bisa memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat di saat itu.

    Saya doakan semoga ada jalan keluar dan berharap produknya bisa diterima masyarakat banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *