Umroh

Cerita Umroh – part 3 : Madinah dan Kenangan Raudhah

Kami tiba di Masjid Al-Haram sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Kami langsung bersiap-siap untuk thawaf dan berjalan menuju Ka’bah.

Di depan Ka’bah, semua ambyar.. seperti sebelumnya saya tidak sanggup menahan perasaan saat sholat di sini. Setelah thawaf dan sholat sunnah saya menangis sejadi-jadinya. Bersyukur dikasi kesempatan ke sini lagi, memohon ampunan seluas-luasnya, mengakui semua salah, dosa, kealpaan, mendoakan orang tua, saudara, agar dimampukan berangkat juga ke sini. Semuanyaaa.. tumpah bersama air mata dan ingus saya #eh

Setelah selesai doa saya ke tempat suami, mencium tangannya. Dan suami mencium ubun-ubun saya lamaa sekali.

Alhamdulillah.. nikmat ini yang tidak tergantikan oleh apapun :’). Saat menulis ini pun saya masih saja terharu dan pengen nangis lagi.

Kami lanjut Sa’i, ber-Tahallul dan kemudian siap-siap untuk langsung menuju Madinah. Iyes, jadwal kami memang hanya thawaf sekali di Mekkah kemudian menuju Madinah. Nanti setelah 3 hari di Madinah baru kembali lagi ke Mekkah.
Perjalanan ke Madinah sekitar 4-5 jam. Di bus semua hening,, pada tidur semua haha. Kami hanya mampir sholat Ashar kemudian lanjut lagi ke Madinah.

***

Tiba di Madinah, kami disambut cuaca panas yang ekstrim wow.. sampai 46 derajat celcius. Buru-buru masuk hotel buat ngurus cek in sekaligus ngadem hihi.. Menjelang berbuka baru menuju Masjid Nabawi. Masya Allah orang-orang sudah duduk rapi saling berhadap-hadapan dengan takjil di depan mereka. Kami jalan dan melewati jejeran orang-orang itu dan masya Allah lagi, orang-orang itu berebutan ngasih takjil ke kami :’) Ya Allah nikmat saling berbagi ini yang sangat indah di sini.

Selesai sholat maghrib kami mulai saling mencari,,, karena nomor ponsel kami belum teraktivasi di sana. Duh perkara saling mencari ini heboh amat. Entah karena alasan apa kemaren itu sampe nomornya suami tak bisa diaktifkan roamingnya. Jadinya hanya connect kalo lagi di hotel, pake wifi. Pas di masjid ya yuk dadah babay.

Akhirnya tiap mau ke Masjid kami saling janjian ketemu di gate berapa jam brapa. Tak boleh telat karena kalo sudah di sana kami tidak bisa saling menghubungi. Sampe ke menit2nya segala haha.
Untungnya pas puasa kan ya, jadi tak ada jadwal makan siang. Menunggu waktu dari Dhuhur ke Ashar biasanya kami sempatkan untuk belanja dan jalan-jalan di sekitaran Masjid. Walau panasnya luar biasa, tapi ditahan-tahan soalnya di waktu lain susah. Menjelang Ashar kami balik ke Masjid, ngambil tempat strategis soalnya abis Ashar sudah mulai penuh. Untungnya juga di rombongan kami tidak mengharuskan harus selalu sama-sama kalo sudah di Masjid. Karena tempat yang ada biasanya hanya cukup untuk 1-2 orang. Jadi agak sulit kalo kemana-mana musti selalu sama-sama.

***

Hari kedua di Madinah kami dijadwalkan mengunjungi Raudhah. Ada muthawwif perempuan yang mendampingi. Diajari teknis menuju ke sana, apa-apa yg disarankan dan tidak disarankan untuk dibawa. Sampai di tempat antrian terakhir, kami duduk antri menunggu giliran.

Antriannya Subhanallah banyaknyaa, kayanya tidak pernah sepi ya Raudhah ini. Saya deg2an menunggu giliran, dan agak ciut juga melihat antrian yang ada, dan cara mereka masuk ke sana. Desak-desakan sekali kakaa..

Tiba giliran kami. Diberi komando untuk masuk. Dan perjuangan dimulai.

Awalnya saya dan teman-teman rombongan masih kukuh saling berpegangan. Semakin ke dalam semakin sesak, pegangan kami juga semakin dieratkan. Tapi… Subhanallah.. saya semakin sesak. Saya ingat sekali ada satu ibu2 sepertinya dari India yang sangat ribut. Berulang kali mendorong dengan tubuhnya. Akhirnya dengan berat hati saya melepas pegangan tangan dari teman rombongan. Dengan kode mata saya meminta dia untuk lanjut saja tidak usah menunggu saya.

Pandangan saya mulai berkunang-kunang. Saya mulai sulit bahkan untuk bernafas pun. Kaki mulai tidak menjejak dengan normal. Saya sudah tidak terpikir untuk mencari karpet hijau, tempat yang diarahkan untuk melakukan sholat 2 rakaat. Melihat tulisan Exit, saya kemudian mengarah ke sana. Keluar sajalah. Daripada memaksakan diri untuk sholat sementara kondisi sangat crowded begini.

And then miracle happened.

Surprisingly, jamaah di arah pintu keluar tidak seramai tempat masuk tadi. Melihat ke bawah, karpet hijau! Walau masih tetap ramai orang-orang yang keluar, tapi masih memungkinkan untuk melaksanakan sholat.

Arahan Muthawwif sebenarnya saat kita sholat ada teman-teman yang menjaga kita. Makanya diarahkan untuk tidak terpisah-pisah. Tapi kemudian saya terlepas dari rombongan. Tidak ada yang bisa menjaga saya supaya tidak terinjak saat sedang sujud. Tapi saya kemudian tetap memberanikan diri. Mulai takbiratul ihram.

Tiba-tiba begitu saja, ada ibu-ibu yang kemudian berdiri di dekat saya, menjaga saya saat sedang sholat. Menghalau jamaah yang ingin melewati tempat sujud saya. Memastikan saya bisa sholat di situ, di karpet hijau.

Air mata saya kembali tumpah-tumpah. Selesai sholat saya menghambur ke ibu itu, mengucapkan beribu-ribu ”Jazakillah khairan” telah menjaga saya. Saya menciumi tangannya, memeluknya, dan dia mencium kepala saya.

Baru setelah itu beliau keluar, dan saya melanjutkan doa saya. Kali ini sambil berdiri.

Beginilah kemudahan Allah. Pertolongan-Nya sangat dekat. Saya dan Ibu itu bahkan tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Tapi beginilah Islam mempersatukan kami. Menggerakkan Ibu itu untuk menjaga saya di Raudhah. Tak henti-hentinya saya bersyukur dengan pertolongan Ibu itu. Semoga Allah tetap menjaga Ibu itu dalam keberkahan.

Keluar dari Raudhah, air mata saya masih saja mengalir. Kejadian barusan di Raudhah begitu luar biasa. Saya teringat kejadian 7 tahun lalu saat saya dan Ibu hampir terjatuh karena berdesak-desakan saat thawaf. Saya sudah berpikir tidak akan selamat keluar dari Raudhah. Dan kemudian pertolongan Allah hadir lewat Ibu itu, memudahkan saya untuk sholat dan beribadah lebih lama di Raudhah.Terima kasih Allah untuk nikmat ini :’)

Selamanya kenangan di Raudhah itu akan menemani ingatan saya. Hati saya masih selalu menghangat jika mengingat saat-saat ketika Rasulullah terasa sangat dekat di sana.

Ah, semoga kerinduan ini mampu membawa kami kembali lagi ke sana. Mampukan Ya Allah.. :’)

Baca juga cerita Umroh part 1 dan part 2

2 Comments

  1. Rizky says:

    Selalu rindu pengen kembali kesana yaaa..

  2. neng_raz says:

    :’)
    Semoga bisa juga berkunjung kesana juga kakaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *