Merasa Berkorban (?)

Berkorban. Kamu kamu kamu pernah merasa berkorban tak?

Kenapa tiba-tiba nulis tentang ini? Eum.. sudah sejak beberapa waktu yang lalu sih. Beberapa kali berseliweran di lini masa tulisan-tulisan tentang ”pengorbanan” seorang perempuan. Apalagi hari-hari terakhir ini di mana santer beredar video anak dari seorang laki-laki yang melabrak selingkuhan ayahnya.

Ramelah status-status yang menyudutkan para selingkuhan, perebut suami orang, perebut kebahagiaan keluarga, you named it. Ditambah dengan wejangan ke para suami jaman now untuk selalu mengingat pengorbanan sang istri, utamanya di usia awal pernikahan dulu.

Istri yang berkorban meninggalkan orang tua untuk ikut bersama suami. Istri yang mengorbankan badannya saat mengandung anak dari suaminya. Istri yang mengorbankan karirnya, berhenti dari kantor tempat ia bekerja demi fokus membesarkan buah hati. Ingat-ingatlah itu wahai para suami, sebelum kalian berpikir untuk selingkuh.

Kurang lebih seperti itu inti-intinya.

Ya itu betul. Dan memang harus seperti itu.

Tapi bukan itu poin yg ingin saya bahas.

Tapi tentang yang katanya pengorbanan perempuan atau istri.

Berkorban.

Menurut KBBI : berkorban/ber•kor•ban/ v 1 menyatakan kebaktian, kesetiaan, dan sebagainya; menjadi korban; menderita (rugi dan sebagainya); 2 memberikan sesuatu sebagai korban.

…….

Memberikan sesuatu sebagai korban. Korban?

Sependek pemahaman saya, dalam pernikahan tidak semestinya ada yang merasa berkorban. Karena ketika demikian, pihak yang berkorban akan menuntut hal lain, sebagai hadiah dari pengorbannya. Gitu gak sih?

Hal yang sederhana dan umum saja dulu. Kita diundang di sebuah acara kantor di hari libur, yang semestinya itu waktu untuk keluarga. Trus akhirnya bela-belain datang, trus acaranya batal, atau diundur tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kzl kan? Kezel dong. Kita sudah meluangkan waktu, mengorbankan waktu bersama keluarga, trus acaranya tidak jadi.

Ya mirip-mirip gitulah.

Seorang istri yang merasa berkorban meninggalkan keluarganya sejak kecil untuk bisa ikut suami, kemudian menjumpai hal-hal tidak menyenangkan dari suaminya setelah itu, akan menyesali dan mengungkit pengorbanannya itu.

Seorang Ibu yang merasa berkorban meninggalkan karir di kantor demi mengurus anak-anaknya, kelak jika anaknya berbuat hal yang tidak disukainya, akan mengatakan Ibu rela meninggalkan kerjaan kantor demi ngurus kamu! Emang anak-anak kita minta diurus oleh kita? Bukannya kita yang merasa perlu untuk mengurusi mereka? Untuk memastikan mereka sehat, aman, nyaman, di bawah pengasuhan langsung Ibunya.

What I’m going to say is… please, para perempuan yang mulia hatinya. Jangan pernah merasa berkorban. Tidak ada yang dikorbankan. Kita hanya memilih mana yang lebih prioritas saat ini. Jangan pernah merasa mengorbankan bagian dari diri kita demi orang lain.

Kita memilih mengikuti suami, karena kita paham bahwa memang seperti itulah semestinya tugas kita sebagai istri. Mendampingi suami. Kita memilih resign dari pekerjaan untuk membersamai anak-anak, karena kita tahu kita yang paling mengerti bagaimana cara terbaik untuk mengasuh anak-anak kita.

Dengan pemahaman yang baik seperti itu, tidak akan pernah ada penyesalan. Menyesal sudah berkorban segalanya. Karena memang tidak ada perasaan berkorban dari diri kita. Tidak ada yang kita korbankan dari diri kita. Kita memilih itu dengan sadar. Kita mengambil pilihan itu dengan telah mempertimbangkan segala risiko yang akan muncul setelahnya.

Gitu.

Kalau pun tidak, atau belum berani mengambil keputusan seperti itu, tidak apa-apa. Kembali lagi, hidup selalu menawarkan pilihan. Pilihan apapun yang kita ambil, putuskan itu secara sadar. Dengan mempertimbangkan segala risiko yang akan muncul setelahnya.

Dan jalani pilihan itu dengan bahagia.

Kebahagiaan adalah koentji.

Leave a Reply