Film : Sabtu Bersama Bapak :’)

Siapa yang sudah nonton? Siapa yang mbrebes mili pas nonton? Atau malah berlinang-linang itu air mata? Siapa yang beruntung kebetulan lagi flu saat itu jadi bisa ngeles bilangnya lagi flu padahal sebenarnya sesak napas nahan airmata? Iya itu cerita saya waktu nonton sebenarnya wehehehehe..

Jadi mungkin sudah pada tahu ya, film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama. Bukunya pernah saya review dikit juga waktu abis baca

Cerita Awal November

Sejak awal tahun sudah beredar poster filmnya di IG para cast-nya. Saat itu sudah yakin pula, film ini HARUS ditonton. Bukunya saja bikin mewek termehek-mehek. Dan saya yakin Adhitya Mulya, penulis buku ini tidak akan membiarkan filmnya asal jadi. Sudah terbukti di film Jomblo beberapa tahun yang lalu.

Selain itu liat pemerannya pun kayaknya hampir semuanya pas menempati peran masing-masing. Kenapa ada ”hampir”? Ya karena gak semuanya ahahaha. Eh ini menurut saya loh ya. Acha is too much for me. Menurut saya dia terlalu banyak tampil di film-film. Jadi bosan. Kayak Reza Rahadian versi cewek. Ya bagus sih aktingnya emang. Tapi apa gak ada cast lain apa zzzzzzzz..

Abimana menempati peran sebagai Sang Bapak. Ira Wibowo sebagai Ibu. Arifin Putra dan Deva Mahendra sebagai 2 anak mereka, Satya dan Cakra. Acha dan (gugling bentar) Sheila Dara sebagai para Menantu. Risa dan Ayu. Eh si Ayu masih calon deng.

Di awal cerita, jujur mata saya sudah langsung panas. Langsung disuguhi adegan saat si Bapak mengetahui bahwa dia terkena Kanker dan peluang hidupnya tidak akan lama lagi. Duh, kangen Bapak saya. Kemudian berpindah ke kehidupan saat ini di mana kedua anaknya sudah dewasa dan sudah memiliki kehidupannya masing-masing.

Iyep, seperti di bukunya, film ini juga menggunakan alur maju mundur cantik.

Poster-film-Sabtu-Bersama-Bapak-1

Saat pertama kali membaca bukunya, saya merasa memang beberapa adegannya sangat film-able. Maksudnya ya memang sangat mungkin dibuat jadi film gitu. Tapi yang sulit saya bayangkan adalah visualisasi adegan setiap cerita akan berpindah dari masa sekarang ke adegan rekaman pesan Bapak mereka. Untungnya perpindahan scene itu di filmnya cukup smooth. Cukup, artinya masih ada yang rasanya kurang. Satu yang saya ingat itu saat Satya menekan anak-anaknya agar bisa seperti dirinya, dengan mengambil contoh dia saat masih kecil berlatih karate. Agak terlalu dipaksakan untuk masuk menjadi salah satu adegan.

Itu saja sih. Selebihnya sangat saya nikmati. Tetap ada beberapa yang dikurangi dan ditambahkan dari bukunya. Tapi overall tidak mengganggu alur utamanya.

Bagian yang paling menghibur? Cakra ftw. Di bukunya pun saya selalu ketawa paling keras setiap membaca cerita duka Cakra yang sangat kesulitan mendapatkan pacar. Deva Mahendra sejak main di Tetangga Masa Gitu kayaknya memang sudah kebawa peran (agak) ganteng dan bego gitu ya.

Bagian yang paling menghibur, Cakra. Dan yang membuat air mata saya berlinang-linang adalah saat Satya membujuk dan meminta maaf ke Risa. Duh liat cowok meminta maaf ke cewek itu emang sexy ya. Makanya saya itu suka ngambek biar suami sering-sering membujuk dan minta maaf ke saya hahahaha /HEH

Dari sisi “pesan dari Bapak” yang menjadi inti cerita ini, memanglah masih lebih nyess baca bukunya. Tapi secara keseluruhan, alur cerita, pengembangan karakter, improvisasi pemain, semuanya sangat sangat menyenangkan buat saya. Entertaining lah ya istilah kerennya.

Adhitya Mulya is one of a brilliant writer. Topik yang cukup berat dan sangat menguras emosi bisa disampaikan dengan santai, dengan cara baru, dan tetap dengan gaya Adhit, cerita yang tingkat lucunya juga di atas rata-rata. Hebatnya lagi, itu tertuang dengan sangat cantik di buku dan filmnya.

STRONG RECOMMENDED! Buruan nonton sebelum filmnya turun dari bioskop! Yang Bapaknya masih hidup bisa sekalian ngajak Bapaknya nonton film ini.

6 Responses

Leave a Reply

'