Romantika Reuni

Sudah masuk bulan Syawal. Sebelumnya saya mengucapkan Mohon Maaf yang sedalam-dalamnya buat semua teman-teman blogger, teman sosial media, dan semuanya yang pernah berinteraksi dengan saya. Mohon maaf jika pernah ada salah2 kata, sikap, perilaku yang tidak mengenakkan hati. Semoga dimaafkan yaaa…

***

Seperti sebagaimana biasanya. Momen puasa Ramadhan selalu dihiasi dengan acara reuni sekaligus buka puasa bersama. Dilanjut dengan reuni lagi dirangkaikan dengan halal bi halal. Mulai dari teman SD, SMP, SMA, Kuliah, endebrei endebrei. Kayaknya tiap tahun kayak gitu ya.

Saya sendiri sejak masih di Surabaya bisa dihitung pake jari ikutan bukbernya. Apalagi kalo di Mall. Males ngantri sholat maghribnya cynn. Harus buru2 pula, kerna banyak antrian selanjutnya. Kalo ga salah selama di Surabaya cuman sekali ikut bukber di mall, taun 2014. Pernah ikut beberapa yang lain tapi acaranya di rumah. Tapi paling sering ya di kosan.

Sejak di Makassar apalagi. Taun lalu sama dengan tahun ini, cuman ikut acara bukber kantor sama teman-teman ngaji. Ada teman yg ngajak bukber di mall tapi maafkan ku tak bisa. Lagian gak enak sama suami kalo terlalu sering buka di luar. Harus dijemput lagi abis maghrib, sementara doi juga mau siap2 tarawih.

Kemudian abis Lebaran. Reuni di mana mana astaga. Yang mana pembahasan, pendaftarannya sudah dibuka bahkan sebelum puasa. Bertepatan pula tanggalnya. Reuni SMA tgl 9 Juli. Reuni Teknik UH tgl 9-10 Juli. Dan judulnya sama-sama Reuni Akbar. Semua angkatan dari 80-an sampe 2000-an ikut reuni. Astaga.

Trus akhirnya reuni mana yang dihadiri?

.

.

Gak ada. Hahahahahahaha..

Hari Sabtu, 9 Juli gak ikut reuni SMA kerna sudah harus ke Makassar. Kakak sy ada yg harus balik ke Jakarta besoknya. Jadi sekalian saja bareng ke Mks. Reuni SMA skip. Waktu di jalan ke Makassar masih memantau grup watsap untuk persiapan reuni Teknik, keesokannya. Masih ada rencana untuk ikut reuni kampus hari ke-2.

Keesokannya, pagi nganter kakak ke bandara. Balik rumah kok ya sudah males kalo harus keluar lagi hahahaha.. suami jg lagi kurang fit. Gejala mplu. Tapi dia memang dari awal bilang gak mau ikut sih. Jadi kalopun saya ikut ya dia cuman nganter dowang. Tapi ku pun mau tidur istirahat sebelum besok harus ngantor lagi.

Nurfadhilah Nurdin

Begitulah. Kami alumni SMA dan Kampus yang tidak kompakz. Tidak punya solidaritas. Judge me judge meee.. (LOL)

***

Tapi gini.

Reuni sebetulnya bagus. Bersua kembali dengan teman-teman lama setelah sekian tahun. Tapi, jika diikuti oleh ratusan bahkan ribuan orang, what kind of reunion it would be?

Sebagai seorang introvert di dunia nyata (uhuk!) bertemu dengan banyak orang itu melelahkan. Tidak bisa ada percakapan intim yang tercipta. Kita cuman bisa basa basi, nanya kabar sekilas, kemudian beralih ke teman yang lain, basa basi lagi. Begitu seterusnya. Kemudian (mungkin) mengikuti rundown acara yang sudah disiapkan oleh panitia. Kemudian foto-foto. That’s not my thing actually.

reuni 1

My kind of reunion is that we meet. Put your cellular phone away. We talk each other. Talking about our life. How’s your job. Where are you stay now. How bout your kids. And many more. TIdak melulu harus foto. Karena kenangan itu tersimpan di hati.

Beberapa kali saya bertemu dengan teman kuliah, teman SMA. Lebih sering seperti itu. Ngobrol berdua atau bertiga. Sambil makan atau ngopi. Di tempat yang tidak terlalu ramai. Saling nanya kabar, nanya kerjaan, pokoknya hal-hal sekitar kami. Kadang tak terasa sudah satu jam atau dua jam lewat kami mengobrol. Waktu jadi tidak berasa kan ya kalo momentnya kita nikmati.

Suami pun sepertinya juga begitu. Tahun lalu kalo ndak salah dia ada reuni jurusan. Dia ndak hadir, alasannya kerna baru balik dari Sinjai (padahal kalo emang niat datang kan bisa ke Makassar sehari sebelumnya. LOL). Tahun ini juga di reuni fakultas dia ndak mau hadir. Katanya banyak yang dia gak kenal. Yaiyyalah banyak yg gak dikenal wong itu reuni seluruh angkatan (LOL)

Tapi beberapa kali pula saya diajak ketemu teman lamanya dia. Seringnya kalo kebetulan temannya lagi berkunjung ke Makassar. Modelnya ya kayak saya tadi. Ngobrol di tempat yang tidak terlalu banyak orang. Ngomongin kerjaanlah, apalah apalah.. Kadang pula saling memberi bingkisan.

Lebih sering seperti itu. Dan saya sepertinya lebih senang dengan pertemuan seperti itu. Maafkan kalo terkesan tidak ingin bertemu semuanya. Sungguh, saya ingin. Saya juga kangen teman-teman lama. But can we have a more intimate conversation? In a cozy place, with a cup of tea, maybe?

***

Update : Sampe semalem masi sempat ngiri2 gimanaa gitu pas liat foto2 reuni kampus. Tapi terus ada yg share video orang2 pada ngumpul di Lapangan Merah dan nyanyi lagu We Are The Champion, masih dengan gaya andalan. Dude, seriously? Oh wow. And then I think it’s okey for not going there.

Merasa diri lebih juara daripada orang lain atau jurusan lain atau fakultas lain dengan parameter yang kurang jelas, tidak pernah masuk di akal saya. Meskipun apakah memang seperti itu maksudnya atau bukan, itu masih sangat debatable. Tapi saya mahasiswa Teknik, tidak pernah setuju dengan aura-aura arogansi yang tercipta di kalangan mahasiswa Teknik saat itu. Utamanya ketika menyanyikan lagu itu.

Mungkin akan ada senior yang merasa gagal mengkader saya menjadi anak Teknik saat membaca tulisan ini. It’s okey. We dont have to agree with everyone’s opinion, right?

***

Anyway, it’s just my two cents opinion. Maaf kalo ada yg ndak sepakat yaa. Selamat lebaran, dan selamat kembali ke rutinitas bagi yang ndak ngambil cuti kemaren walopun sebenarnya pengen banget tapi gak di approve atasan *eh

2 Responses

  • Karena saya juga dulu nda begitu aktif di ekskul fakultas dan nda banyak kenal (kecuali teman seangkatan), ditambah saya juga kurang bisa masuk ke dalam nuansa dan konsep reuni, plus memang ga pulang kampung, jadilah saya gak ikut hadir di acara reuni kampus hahahaha. Panjang banget yah alasannya Hahahahahah

  • Hmmm… Jadi bahan pemikiran juga buat ngadain reuni SPK tahun depan.

Leave a Reply


Warning: fread() [function.fread]: Length parameter must be greater than 0 in /home/illawi32/public_html/wp-content/themes/proclouds/footer.php(8) : eval()'d code on line 4

Warning: base64_decode() has been disabled for security reasons in /home/illawi32/public_html/wp-content/themes/proclouds/footer.php(8) : eval()'d code on line 2