Jumat, 5 Desember

Suatu waktu, saya pernah tiba-tiba bertanya pada Ibu.
”Ma, pak A itu usianya sekarang berapa ya?”
”Mungkin sekitar 70-an…”
”Kalo pak B, yang dulu sama-sama Bapak di Dewan Pendidikan itu?”
”Ya.. mungkin sekitar segitu juga. Mereka semua kan seangkatan”
”……………….”
”Kenapa tiba-tiba tanyakan umurnya mereka?” Mama nanya
”Ndak papa”
”Mereka umurnya panjang-panjang di’ Ma. Bapak kenapa ndak gitu ya?” Lanjut saya sambil mandang ke arah lain. Silly question, I know..
”Mama juga pernah kepikiran begitu. Apalagi kalo ketemu sama teman-temannya Bapak dulu. Ya teman ngajar, teman kantor…”
”…tapi kalo itu diturusiang (dituruti) Nanti Allah menilai kita jadi ndak Ikhlas melepas Bapak..” lanjut Mama. Kali ini ada getaran di penghujung kalimatnya. Samar.

Saya segera mengalihkan pembicaraan.

Begitulah. Saya dan Ibu kadang sesekali masih berandai-andai. Jika saja Bapak masih ada. Jika saja Bapak menyaksikan atau mendengar sesuatu, mungkin akan begini responnya. Mungkin akan seperti ini jawabannya. Kami sibuk mengira-ngira, dan kami sudah cukup bahagia dengan itu.

Mungkin seperti itulah cara kami mengenangnya.

Tanggal 5 Desember di tahun ini ternyata jatuh di hari Jumat. Persis 6 tahun lalu. Jumat, 5 Desember 2008. Hari itu saya mulai (hanya) dengan bilang ke suami ”wah, ternyata ini 5 Desember. 6 tahun Bapak meninggal. Pas di hari Jumat juga..”

Saya tidak menelpon ke Ibu, seperti biasanya. Entahlah, mungkin karena tepat di hari Jumat juga, saya jadi menghindari membahas itu dengan Ibu. Khawatir jadi mellow berlebihan lagi :D

Saya tidak tau apakah hari itu Ibu juga mengingatnya, atau tidak. Sampai sekarang saya tidak pernah membahasnya lagi jika berbicara dengan Ibu di telpon. Sengaja.

***

Bapak,

Berapa pun jarak waktu yang telah membentangkan pertemuan terakhir kita di dunia, sekian hari sekian bulan sekian tahun, kau pasti tahu ingatan ini tak pernah menjadi samar tentangmu. Kami di sini masih dan akan selalu mengenangmu, bercerita tentangmu.

Bapak, tahukah, mata kami masih berembun setiap mengingatmu. Nafas ini masih sering tercekat saat memory tentangmu tiba-tiba meruak. Dada ini selalu terasa sakit setiap rasa rindu itu menguak.

Semoga doa kami mampu menemanimu di duniamu saat ini.

Selamanya. Selamanya kenangan itu tidak akan pernah layu. Selamanya ia terekam jelas di hati kami. Selamanya kau menjadi Idola bagi kami. Selamanya, hingga dunia ini selesai. Dan kita Insya Allah akan berjumpa kembali, di kehidupan yang abadi. Nanti.

Bapak, tahukah.. Saya rindu.

Makassar, 12122014

Leave a Reply