Jawa vs Luar Jawa

Ini tidak bermaksud rasis. Ini tentang kondisi di kantor sy.

Seperti kita tau, jumlah populasi di pulau Jawa jauuhhh lebih besar dibanding luar Jawa. Bukan cuman populasi, tapi juga pusat pemerintahan, pertumbuhan bisnis industri, hampir semua berpusat di pulau Jawa. Konsekuensi logisnya, kebutuhan akan ketersediaan dan keandalan suplai tenaga listrik juga menjadi prioritas di sini. Beuh, serius amat. *lap keringat*

*lanjut* Hal itu membawa kebijakan para direksi PLN untuk memprioritaskan pengadaan sumber tenaga listrik di Jawa. Menurut para direksi, penghasilan PLN dari wilayah operasi Jawa-Bali mencapai 70% dari total pendapatan PLN di seluruh Indonesia. Artinya secara umum, listrik di Jawa sudah aman. Suplai berlimpah. Pemadaman jauh lebih baik dari luar Jawa.

Menurut salah seorang atasan sy, jika diibaratkan PLN itu seperti sebuah rumah makan, tim logistik orang2 PLN di Jawa itu sudah mampu merencanakan besok akan makan apa, dimasak seperti apa, bagaimana setting ruang makannya, dll. Sedangkan teman2 di luar Jawa masih meributkan besok bisa makan apa enggak (LOL)

Masalah ketersediaan suplai tenaga listrik masih menjadi masalah utama teman2 di luar Jawa.

Sementara di Jawa yang suplainya sudah tercukupi, ibaratnya sudah melangkah ke level selanjutnya. Persoalan ketersediaan suplai tetap diperhatikan, hanya tidak menjadi prioritas utama seperti halnya di luar Jawa.

Anyway, Direktorat Operasi Jawa Bali (yg baru saja berubah jadi Direktorat Operasi Jawa Bali Sumatra) saat ini sangat concern ke pembinaan anak2 muda. I mean, anak2 muda yang masuk tahun 2000-an ke atas. Termasuk saya *ehm*

Di PLN itu kan sempat ada vacuum recruitment kan ya. Kurang lebih 7 tahun PLN tidak mengadakan recruitment. Akibatnya ada gap generation yang sangat terasa. Nah itulah yang coba diminimalisir oleh Bapak-bapak Direksi di Direktorat Jawa Bali. Teman2 muda ini diakselerasi sedemikian rupa supaya –katanya sih- lebih siap menerima estafet kepemimpinan di PLN.

Dan memang Direksi betul2 menggarap program untuk anak2 muda ini dengan serius. Tidak tanggung-tanggung, pihak penyelenggara beberapa kali mengundang pembicara dan motivator dari luar dan tentunya profesional untuk ngisi materi buat anak2 muda. Beberapa waktu yg lalu sy sempat ikut juga salah satu program ini. Ngundang Bong Tjandra bok. Ada Handry Satriago juga, CEO-nya GE. Dan yang diundang sebagai peserta hanya anak2 muda dari Jawa bali dowang. Sempat ditanyain sm teman2 yg ditempatkan di luar Jawa. Pada heran kali, liat status teman2 yg di Jawa sama semua. Pada ngumpul di kantor pusat.

Begitulah.

Bukan rahasia lagi kalo teman2 di luar Jawa pada berlomba2 untuk pindah ke Jawa. Apalagi bagi teman2 yang memang kampung halamannya di Jawa. Sebaliknya, teman2 yang sudah ditempatkan di Jawa malah sebagian tidak ingin kemana2 lagi. Sudah settle. Sudah nyaman di Jawa. Beberapa bahkan rela tidak dipromosikan menjadi apa2, asalkan tetap ditempatkan di Jawa. Hih..

Tapi dimaklumi juga sih. Sy pun harus mengakui bahwa hidup di Jawa memang nyaman. Apa2 mudah dan murah. Transportasi gampang dan pilihannya banyak, akses kemana2 dekat. Fasilitas umum sangat membantu. Seandainya sy orang asli sini pun, sy pun mungkin akan betah tinggal di sini. Bahkan tidak sedikit teman2 sy yg sama2 merantau ke Jawa malah akhirnya tidak ingin balik lagi ke kampung halamannya. Sudah merasakan enaknya tinggal di Jawa. Itu memang harus diakui

Tapi, seindah-indahnya di perantauan, rumah sendiri tetap lebih enak kan ya?

Intinya yg ingin sy bilang adalah, jika memang teman2 di luar Jawa berlomba untuk pindah ke Jawa, dan melihat presentasi teman2 yang ingin dipindahkan ke luar Jawa sangat sedikit, maka semestinya memindahkan satu orang ke luar Jawa (contohnya Makassar) bukan satu hal yang sulit kan ya? Toh, yang siap menggantikan juga lebih banyak lagi. Iya kan iya kan. IYYA KAANNNN???

……

……

……

Iya. Ini curhat yang tidak bisa dikatakan terselubung (LOL)

4 Responses

Leave a Reply