dari Sinar Matahari menjadi Listrik…

Beberapa waktu yang lalu sy ke Jakarta buat kopdar Ada diklat yang harus sy ikuti di Udiklat Kantor yg di Slipi. Ini sedikit cerita2 saja tentang pelajaran yang sy dapat di diklat itu.

Seperti yang pernah kita pelajari jaman sekolah dulu, negeri kita ini terkenal dengan sebutan negeri kepulauan. Selain 5 pulau besar, ada ribuan pulau yang tersebar di wilayah NKRI. Baik itu yang berpenduduk atau yg tidak berpenghuni. Untuk pulau yang berpenghuni itu, penduduk di sana belum semua bisa menikmati listrik di daerah mereka. Kondisi pulau-pulau kecil itu tentu saja menyulitkan jika harus ditarik jaringan baru dari jaringan listrik yang sudah ada. Jaringan yg terlalu panjang juga kan akan menurunkan keandalan. Di samping itu juga membutuhkan biaya pemeliharaan yang besar. Intinya tidak efisien.

Maka, pada sebagian dari pulau-pulau ini kemudian digunakan pembangkit skala kecil. Pembangkit yang hanya cukup untuk melistriki daerah pulau itu saja. Ini disebutnya sistem isolated.

Tapi kemudian pembangkit saat ini yang kebanyakan menggunakan mesin berbahan bakar diesel juga dirasa membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terlebih dengan semakin tingginya biaya bahan bakar minyak. Belum lagi jika stok BBM tidak terdapat di daerah tersebut. Ia harus disupply dari daerah lain. Berarti nambah lagi biaya angkut BBM tersebut. Di tambah lagi dominan pelanggan pada suatu pulau kecil biasanya adalah pelanggan rumah tangga, yang kepada mereka diberikan tarif listrik sesuai TDL yang berlaku. Dari sisi PLN, biaya penyediaan akan menjadi lebih besar toh daripada harga jual listriknya :)

Muncullah ide untuk menggunakan pembangkit listrik tenaga surya. Jadi kita memanfaatkan energi sinar matahari untuk membangkitkan listrik di daerah tersebut.

Jenis pembangkit ini sebenarnya sudah mulai ada di Indonesia sejak tahun 1990-an. Beberapa propinsi sudah memasangnya di daerah tertentu. Tetapi penggunaannya masih terbatas dan belum disosialisasikan dengan baik ke masyarakat. Baru pada setahun terakhir wacana ini kembali mengemuka, yang kemudian ditindaklanjuti oleh PLN dengan mengumpulkan data seluruh desa di kepulauan yang belum berlistrik 24 jam.

Skema sederhana dari PLTS

Pola kerjanya itu, ada sebuah inverter yang berfungsi mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Selain itu, digunakan juga baterai untuk menyimpan sinar matahari tersebut. Baterai ini nantinya digunakan ketika sinar matahari tidak secerah biasanya, atau pada saat menjelang sore.

Tapi tentu saja kita ndak bisa juga mengoperasikan ini selama 24 jam. Karena jika demikian, dibutuhkan lebih banyak baterai untuk penyimpanan energi tersebut, dimana juga dibutuhkan investasi yang tidak sedikit dalam pengadaannya :)

Untuk itu pembangkit diesel masih tetap digunakan, hanya waktunya yang lebih singkat. Ia hanya digunakan pada saat malam hari, ketika sinar matahari di daerah tersebut tidak ada lagi. Sistem penggabungan ini dinamai pola operasi Hybrid Power System.

Nah ini dia yang kemarin sy pelajari di diklat kemarin. Jadi kan perlu dianalisis apa memang proyek ini layak untuk direalisasikan. Karena ini juga tentunya membutuhkan investasi. Kita mau membandingkan lebih hemat mana; jika kita saat ini membeli peralatan pembangkit tenaga surya ini kemudian dilakukan penghematan dalam penggunaan BBM, atau kita tidak perlu mengeluarkan biaya apapun untuk investasi PLTS, tapi secara rutin mengeluarkan biaya untuk pembelian BBM bagi pembangkit diesel.

Errr.. sampai disini ngerti gak? :-D

Untuk alat analisis ini, kita dikenalkan sama satu aplikasi simulasi gitu. Hasil akhirnya nanti kita dikasi liat kombinasi pembangkit yang seperti apa yang membutuhkan biaya paling kecil secara keseluruhan. Apakah PLTD murni, PLTS murni, atau gabungan keduanya. Sampai saat ini sih, kalo dari data yang kita masukkan yang paling kecil biayanya ya itu tadi, yang pake Hybrid. Kombinasi PLTS (siang) dan PLTD (malam).

Jujur, ini sesuatu yang baru buat saya. Sooo excited. Jarang-jarang soalnya belajar hal baru di sini. Biasanya muter di rutinitas yg itu2 saja #eh keceplosan curcol

Walopun, walopun yaa.. pematerinya yang dari luar negeri dan tentunya ngomong enggwes itu bikin kita harus full-focused sama materinya. Meleng sedikit kita jadi berasa ketinggalan banyak. Lah ngomongnya cepat dan pake bahasa asing gitu.

Karena kemarin itu judulnya Diklat, jadi baru tahap belajar dulu. Sebagai follow up-nya, kita diminta menyusun Kajian Kelayakan Proyek (KKP) itu, sesuai lokasi masing-masing. Kalo di Jawa Timur ini sebagian besar lokasinya di Pulau Madura. Di sana ternyata buanyak pulau-pulau kecil yang listriknya belum optimal. Ada yg masih beroperasi 12 jam karena keterbatasan BBM, ada juga yg belum menjadi pelanggan PLN. Jadi ada beberapa pulau yang pengadaan listrik di daerah itu pake pembangkit skala kecil, trus biayanya swadaya antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Madura dan Pulau-pulau kecil di sekitarnya

Nah, kenapa saya nulis ini, karena lagi stuck mengumpulkan data pendukung untuk nyusun KKP-nya, huahahaha.. Soalnya format yg dikasi sm bule instrukturnya itu harus detail data per pulau sih. Padahal di data yg ada sekarang cuman per Kabupaten, hadoo.. (doh)

Apalagi mengumpulkan data kelistrikan sementara di sana bukan pelanggan PLN. Kalo cuman jumlah pelanggan per kabupaten sih ada, tapi kalo sampe ke tiap pulau, sampe data beban puncak juga, haishh.. lama kakakk..
Jangan2 musti ke sana, musti ke Pemda-nya langsung buat minta data. Ngeri aja kalo harus naik kapal kecil ke pulau2 itu (okok) eh jadi kemana-mana lagi topiknya..

Tapi overall ini seru. Semoga proyeknya berjalan lancar, kendala2 yang ada bisa diatasi. Mari bekerja (rock)

sumber gambar

8 Responses

  • semoga menang!

    #eh (ninja)

  • hm..instinya menghasilkan energi alternatif ya.. *huh, komen khas org awam nih.. hehe..*
    semoga sukses dg KKP nya, Illa :)

  • Kalau di Bawean keknya cocok banget mengunakan tenaga surya begini ya mbak. Ayo kapan PLN bangun Bawean dengan listrik? :D #malahtanyambakIlla :D

  • saya sih ngikut PLN aja! termasuk earthhour juga ngikut PLN, hehehe

  • @Rusa, di Bawean sekarang listriknya sudah 24 jam kan? Sekarang kan di sana menggunakan PLTD sewa. Ini di PLTS Bawean jg masuk kok di daftarnya, satu2nya lokasi di luar kepulauan Madura hehe..
    Tapi memang blum diprioritaskan, prioritas utama itu yg listriknya masih 12 jam, dan itu masih banyak di pulau2 kecil di Madura :-D

  • kagak sabar nunggu hal ini bisa bener2 diterapin di negeri kita. soalnya denger2 pemerintah punya perjanjian gt sama negara penjual minyak buat ga make sumber energi lain selain minyak… :(

  • sy pelajari jg ini di mata kuliah fisika material…
    jd ingat wktu kkts dulu prnh mengantar wafer plts ke daerah Luwu, sulsel. Program dari dinas pertambangan & energi (skrg dinas energi & sumber daya mineral)

  • sungguh luar biasa yang mempunyai ide dan gagasan seperti ini,, ayo semangat pantang mundur.. JOss!! hehe

Leave a Reply