Review Film : Catatan Harian Si Boy

Apa yang terlintas di benak teman-teman ketika mendengar kata Si Boy? Aha! Seorang cowok ganteng dan baik hati, dikelilingi cewek-cewek yang tergila-gila padanya, memiliki keluarga yang bahagia dan kaya raya. Fasilitas dan kenyamanan hidup yang didapatkan Boy tidak lantas membuat dia jadi manja dan nakal. Orangnya alim, selalu melirihkan ”Astaghfirullah” ketika melihat pemandangan yang tidak semestinya. Di mobilnya bahkan tersampir sajadah dan tasbih, yang menunjukkan bahwa dimanapun ia tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu. What a perfect!

Dan yang paling khas adalah ia selalu menulis hal-hal yang dialaminya ke dalam catatannya.

Iyep, kita sedang kembali ke masa tahun 1980-90an. Masa dimana tercipta sosok fiktif yang begitu sempurna. Tentunya ini bukan hal yang mudah, tentunya bagi Onky Alexander -sang pemeran Boy- untuk menyihir penontonnya sedemikian rupa pada saat itu. Betapa hampir semua orang ingin menjadi seperti dia.

And now, here we are. Kita akhirnya tahu, bahwa mas Boy terlalu jauh dari realita kita. Masa sih ada sosok yang sesempurna dia? He was too good to be true. Tapi tak bisa dipungkiri pula, bahwa si Boy telah menjadi legenda..

Dan now he is come back!!

Catatan Harian Si Boy. Film yang tayang sejak 1 Juli 2011 ini merupakan penutup dari rangkaian 5 seri film sebelumnya. Ia menghadirkan cerita baru, yang menyisakan benang merah dengan film versi lawasnya.

SINOPSIS

Cerita berawal ketika Natasha (Carissa Putri) kembali ke Indonesia untuk menjenguk ibunya, Nuke yang sedang sakit keras (Nuke diperankan oleh Ayu Azhari di Catatan si Boy I). Urusan pacar Natasha, Nico, yang terlilit hutang membawa ia ke kantor polisi dan berkenalan dengan Satrio (Ario Bayu), cowok yang bekerja sebagai montir dan selalu bolak balik kantor polisi karena kasus balapan liar. Oia, adegan balapan liar yang menjadi pembuka film ini cukup menjadi shocktherapy bagi penontonnya. Sebuah pembuka yang memacu adrenalin. Fascinating enough untuk ukuran film Indonesia :-D

Selama dirawat di Rumah Sakit, Nuke tidak pernah melepaskan buku catatan dari genggamannya, yang ternyata adalah catatan milik Boy. Satrio yang membantu Natasha untuk mencari pemilik catatan itu menyulut kecemburuan Nico, dan kemudian membawa masalah bukan hanya bagi Satrio, tapi juga melibatkan keluarga dan sahabat2nya. Pada akhirnya Satrio harus memilih antara perseteruannya dengan Nico atau para sahabatnya yang sudah sedemikian dikorbankan dalam kasusnya dengan Nico. Di sisi lain, usahanya dalam mencari Boy dengan menemui Emon dan Ina, sahabat dan adik Boy tidak menemukan titik cerah.

SERUPA TAPI TAK SAMA

Walaupun hadir dengan cerita baru, masih ada paket dari si Boy asli yang melekat di film ini. Seperti kehadiran dua orang sahabat Satrio *satunya usil dan satunya lagi agak ya-gitu-deh* (haha) dan cewek-cewek yang saling berebut perhatian Satrio. Kemudian kenakalan khas Boy yang sering ugal-ugalan di jalan, sering berantem, kehidupan khas anak ibukota, tapi tetap.. tidak meninggalkan shalat.

Perbedaannya mungkin adalah Satrio lebih membumi. Diceritakan Satrio kabur dari rumahnya dan meninggalkan zona nyaman yg pernah didapatkannya. Dia tinggal di sebuah kamar di salah satu ruangan dalam bengkel tempat ia bekerja. Film ini menghadirkan tokoh yang lebih realistis, karena sosok kaya-ganteng-baikhati sudah banyak kita temui di sinetron2 kejar tayang itu. Dan kita sudah nyadar bahwa itu terlalu mimpi.

Namun secara umum, feel dari film Boy asli masih sangat terasa. Tentang perseteruan, persaingan, persahabatan, dan cinta.

Arahan sutradara Putrama Tuta dan skenario dari Priesnanda Dwisatria dan Ilya Sigma seperti menjadi kombinasi yang hampir sempurna. Dialog yang ringan dan santai, tapi selalu membuat kita tidak bisa tidak membenarkannya. Konflik yang diolah sangat mampu mengobrak-abrik emosi penonton. Di satu adegan penonton disuguhi adegan yang mengharu biru, tapi beberapa detik kemudian buyar oleh sisi komedi yang tiba-tiba hadir.

Untuk ini, Ario Bayu, Carissa Putri, Robertino Abimana dan bahkan Albert Halim pemeran Herry –Emon jaman sekarang- terasa sangat pas menempatkan aktingnya. Tidak ada yang berlebihan.

Belum lagi penampilan pemain-pemain Boy asli yang bisa membawa kita pada adegan-adegan manis di filmnya yang dulu. Onky Alexander tetap dengan pesonanya walau dengan dialog yang tidak banyak, Didi Petet yang tetap menyiratkan karakter Emon meski agak malu-malu (hassle) , dan Btari Karlinda adik Boy. Sebuah perpaduan yang asyik.

Film ini berangkat dari ide yang sederhana. Namun akting para pemain, dialog dan chemistry yang tercipta membuat kemasannya menjadi sangat mewah dan bernilai.

Ketika menonton sebuah film, harapan kita adalah sekeluar kita dari studio kita membawa sebuah nilai baru. Dan film ini, sukses mengantarkannya pada para penontonnya. Tentang arti keluarga, makna sahabat, tentang tanggung jawab, dan yang paling penting, quote dari film ini adalah you have to finish what you started! That’s a Boy! (rock)

10 Responses

  • Ini pilm udah masuk list wajib tonton saya :D

  • lihat cuplikan iklannya kaya’nya menarik…review ini melengkapinya. Thx Illa…

  • kalo yang ini ga ada adegan amnesianya kan? Saya lagi siap siap nih nonton Kungfu Panda dan Harry Potter *sombong* lol lol lol

  • Kayaknya bagus juga..
    akhir akhir ini jarang ke 21 karena isinya cuma film setan joroknya DP..
    hm.. cobalah besok mampir…

  • Hm, penasaran juga sih sama filmnya. Apalagi prmosinya lumayan gembar-gembor juga kemarin :)

  • Film yang bagus banget.

  • demi carrisa akan ku tonton film ini (di TV (lmao) ) … ternyata bukan Zarra Zetira (angkatan hilman) lagi yah yang ngarang sekenarionya yah? sukur deh, mungkin bener, ceritanya akan jauh dari glam. saya benci si boy versi 80an. ceritanya mengusung ikon pop amerika (cocacola, burger, berenang pake bikini) .. tapi aneh aja yah ini karakter boy-nya jadi mirip ABRI (LOL)

  • Wah, saya belum nonton ini nih. :D
    Tapi, bisa kan ya, saya menikmati pilem ini meskipun saya belom pernah nonton pilem yang awal dulu? :|

  • Saya paling suka sama quote “buang t*i* itu… agak sedikit vulgar kosa katanya, tapi “nampar”.

    Couldn’t agree more that this movie is good enough. Jadi penolong di kala tidak ada pilihan film Hollywood :-D

  • i like this movie….secara ngga banyak pelm lokal yang saya tonton
    nice review ^^

Leave a Reply