Para Pemeran (2)

*melanjutkan cerita sebelumnya*

Jadi begini. Para pemeran ini ternyata punya jam lembur, beda dengan para pegawai. Jadi untuk para pegawai mau pulang jam brapa juga tidak akan diberikan uang lembur. Sedangkan mereka, jika telah melewati jam 4 dan masih ada pekerjaan yg harus dilakukan, mereka bisa mengklaim waktu lembur. Pada saat pembayaran gaji, itu akan diakumulasi selama sebulan. Kata ibu2 di kantor sy ”jumlahnya juga ga banyak kok dek, sekitar 250-300 ribu per bulannya. Tapi lumayan untuk nambah2in penghasilan mereka”

Nah, baru2 ini di lingkungan kantor sy ada pejabat baru. Dan tiba2 saja beliau membuat kebijakan untuk menghapus klaim jam lembur untuk mereka. Kronologisnya seperti ini :

  • Pejabat ini pernah kesal dengan cara kerja salah satu dari mereka yang memang bertugas mengurusi keperluan bapak pejabat ini.
  • Masih dalam kondisi kesal, pejabat ini tiba2 harus tinggal lebih lama di kantor, karena ada kerjaan yg belum selesai
  • Sebagaimana biasa, jika bapak pejabat belum pulang, petugas ini juga tidak akan pulang. (entah apa aturannya memang seperti itu atau gimana) Maka menunggulah petugas ini.
  • Bapak pejabat ini nanya sama petugas itu : ”kok kamu masih tinggal di kantor? Kalo nungguin sy, ga usah. Ntar sy kunci ruangan sy sendiri aja. Kamu pulang aja”. Trus jawaban petugas ini : ”buat nambah2 (gaji, maksutnya) Pak”
  • Marahlah si bapak ini, dan menganggap petugas seperti ini hanya akan membebani perusahaan. Dan oleh dia diusulkanlah kebijakan untuk menghapus klaim lembur itu

Banyak pihak yg agak tidak sepakat dengan usulan ini, tapi bapak pejabatnya tetap kekeuh untuk mengusulkan kebijakan itu ke manajemen, dengan alasan untuk efisiensi pengeluaran perusahaan.

Di satu waktu, sempat pula sy mendengar komentar ini : ”petugas itu juga sih, napa juga alasannya langsung ke gaji gitu? Kan bisa bilang, ini sudah tanggung jawab sy pak.. atau apa gitu.. jawaban yg lebih cerdas”

Sy hanya selalu diam mendengar semuanya. Tidak pernah terlihat mengomentari setiap respon yg ada. Khawatir sekali ngomong, terlalu cablak. Cuman dalam hati, sy sibuk mengamati bapak pejabat ini, dimana hati nuraninya? Mengapa begitu tega meng-cut sumber penghasilan orang lain? Tidak bisakah sejenak memposisikan diri, bagaimana jika kita yg berada dalam kondisi seperti petugas itu?
Bukankah ia juga punya keluarga, yg perlu diberi biaya? Bagaimana jika ada orang lain yg mencari upaya agar penghasilan kita dikurangi?

Dan tentang ”jawaban yg cerdas”. Euh,, pun tidak mengerti sy, jika kita menganggap tingkat pemikiran kita semua sama. Mungkin bagi sebagian orang, masih dianggap perlu untuk memberikan jawaban yg cerdas dan diplomatis, pada setiap pertanyaan. Tapi, untuk seorang yang berpikir sederhana, bahwa sebagai seorang Ayah ia perlu untuk memberi nafkah keluarganya, bukankah jawaban itu sudah yg paling cerdas, menurutnya?

Bukan soal penilaian orang terhadapnya, atau tentang bagaimana ia mempertahankan posisinya, tapi hanya agar ia bisa meyakinkan diri, bahwa keluarganya terjamin kesejahteraannya. Bahwa ia masih bisa terus menyekolahkan anak2nya. Bahkan mungkin ia tidak peduli seperti apa ia diperlakukan dalam pekerjaannya, yang terpenting adalah ia bisa membahagiakan keluarganya.
Sesederhana itu.

Ergh… kondisi2 seperti ini yg kadang begitu menyesakkan buat sy. Ditambah lagi belum bisa berbuat apa2 untuk menghalaunya, karena posisi sy yg bukan sebagai penentu kebijakan *sigh*
Fyi, skarang usulan ini masih sementara dibicarakan oleh orang2 yg berwenang. Semoga tidak jadi..

Semoga masih ada nurani yg berbicara di sana T_T

9 Responses

  • Cuma mo ikutan bilang:Sebagai yang tidak berwenang untuk kebijakan ya palingan cuma bisa nonton aja he h ehe.banyak hal yang kadang kalau ikutan komen malah jadi runyam,

  • Sebelum diputuskan tentunya memerlukan banyak masukan dari banyak fihak, kalau memang akan membantu, tak ada salahnya ikut memberi masukan kan? tentunya dengan alasan yg obyektif… semoga keputusannya win-win solution ya..

  • saya pernah ikut seminar dengan tema yang hampir sama dg kejadian ini. jawaban dari pakarnya: ini bisnis, kerja pake otak, bukan nurani dan hati. kalo kamu mau baik hati dan make perasaan, di sekolah atau tempat ibadah aja.

  • jawaban seperti petugas itu adalah, jawaban standar-jujur-dan semi becanda sebagian besar masyarakat. Semi-tujuannya adalah tidak ada jawaban lain untuk mengakrabkan diri dengan orang yang mengajak pembicara.

    dan jika seperti itu yang mengajak bicara malah jadi emosi…well, asal bisa konsisten aja :
    * hujan2 terpaksa ngojek payung. Trus : “eh,kamu kan masih sekolah?! Knp ngojek payung?!”
    “buat tambah2 biaya sekolah, Pak.”
    “Apa?! Tidak sudi!”
    Dan si bapak rela hujan2an.

    **si bapak pulang kemaleman. Pak Supir setia menunggu.
    “Kok Pak supir masih nunggu?”
    “buat nambah2, Pak.”
    “Apa?! Tidak sudi!”
    Dan si bapak rela naik taksi karena belum kenal daerah tempat tugas barunya.

    ***Anak si bapak ikut les.
    “eh bapak kan ngajar juga di sekolahan. Kok ngasih les juga?”
    “buat nambah2, Pak.”
    “Apa?! Tidak sudi!”
    Dan si bapak rela anaknya…ah,sudahlah

  • dohh…. tega nian si pejabat itu…

    kalo emang haknya ya kenapa hrs di “cut”
    hufttt

  • saya jadi mikirin soal “jawaban cerdas” yang bisa diungkapkan ke bapak pejabat, apakah ini nama lain dari jawaban licin, memperhalus tujuan atau maksud. sedangkan si pegawai dengan jawaban kurang cerdas sepertinya itu jawaban yang polos ya :(
    tidak bisa dipungkiri kebijakan atasan berimbas pada bawahan kecil

  • klo ada di posisi si “bapak pejabat” jawaban saya juga akan marah2. karena seharusnya pekerjaan ada tenggat waktunya, tidak semata2 di masukkan melulu dalam kerja lembur. Jika bisa selesai tepat waktu kenapa tidak diselesaikan dan malah menunggu jam lembur tiba kemudian diselesaikan. Posisi atasan mempertimbangkan pengeluaran perusahaan agar stabil baik pengeluaran dan masukan. Kalau banyak keluarnya tapi masukan sedikit, baik kualitas kerja bawahannya padahal bawahannya udah lembur terus, atasan bisa kena warning dan siap2 kena SP atau bahkan pergantian atasan, yah, sama2 tidak menyenangkan sih, tapi kalau kualitas jadi sumber tujuan bukan kuantitas, mungkin lembur pun kalau kualitas bagus “pak Pejabat” gak akan naik darah. hehehe… just sharing.

  • aduh telat baca nich. posting + komen jd bahan renungan yg amat berarti untk sy pribadi :)

  • salam buat si bos… :P

Leave a Reply