Ramadhan Kali Ini…

Beberapa waktu lalu, ketika melaksanakan ibadah Umrah, ada satu kejadian yg sampai sekarang masih selalu membuat sy tiba2 ketakutan.

Waktu melakukan thawaf wada’, yaitu thawaf perpisahan, atau thawaf terakhir sebelum meninggalkan kota Makkah Al-Mukarramah. Waktu itu saya dan ibu melaksanakannya ba’da Shalat Subuh. Sewaktu di putaran pertama, masih belum begitu ramai. Namun ketika mulai memasuki putaran keempat, orang2 semakin banyak yg turut melakukan thawaf. Mungkin sambil menunggu waktu Dhuha. Kami yg tadinya berada agak di dalam, -dekat dengan Ka’bah- tiba2 mulai merasa terdesak. Akhirnya kami memilih untuk pelan2 keluar dari kesesakan orang2, dan memilih thawaf dari lingkaran yg agak jauh dari Ka’bah.

Ketika sedang berusaha untuk keluar itu, tepat di depan pintu Ka’bah, tiba2 suasana semakin crowded. Ada rombongan Umrah yg baru masuk, dan mereka rata2 jamaah laki2, orang Timur tengah, yg mana secara fisik jauh lebih besar dari kami :-(  Saya dan ibu semakin terjepit, tak bisa bergerak, bahkan untuk keluar dari himpitan itu. Para jama’ah yg berbadan besar2 itu semakin banyak. Saya semakin erat memegang tangan ibu, bahkan sy merengkuh bahunya dari belakang.

Tapi,, Tuhan, kami tetap tak bisa bergerak. Kaki pun rasanya sudah tidak memijak lantai dengan baik. Bahkan ibu sudah mulai oleng. Tanpa sadar sy menjerit memanggil ibu. Sy panik, bingung mencari jalan keluar. Ibu pun terlihat pias.

Akhirnya dengan pertolongan Allah jugalah, kami berhasil keluar dari kesesakan itu. Ketika berhasil keluar, kami segera menjauh, memilih jalur yg tak terlalu ramai. Tak apalah kami menempuh lingkaran yg lebih besar, yg artinya kami berjalan lebih jauh. Asalkan tidak berdesak2an seperti tadi.

Selepas insiden itu (sambil menyelesaikan putaran thawaf yg tersisa) setiap mengingat kejadian yg baru saja terjadi, sy refleks memegang tangan ibu lebih erat. Spontan. Seperti ada ketakutan bahwa ibu akan terlepas dari pegangan sy. Refleks pula, sy seperti tersentak setiap mengingat kejadian itu.
Sy membayangkan, saat itu sangat besar kemungkinan kami akan betul2 jatuh, dan kemungkinan terburuk akan terinjak2 oleh jamaah lain, seperti beberapa kejadian serupa yg sering sy dengar ketika musim Haji.
Betul2 hanya kuasa Tuhan yg bisa menyelamatkan kami saat itu. Sampai saat ini, sampai saat sy menuliskan tulisan ini, saya masih merinding jika membayangkannya. Allah masih menyelamatkan kami..

Apa yg sy rasakan dan yg ingin sy katakan adalah, betapa dekatnya kita dengan kematian. Kita tak pernah bisa menebak kapan ia menjemput. Sudah memiliki waktunya sendiri, tak bisa ditunda atau dipercepat. Konsekuensi logisnya, dunia seolah menjadi tidak berarti lagi, dengan menyadari bahwa kita semua akan menemui-Nya. Ya, semestinya begitu.

Ramadhan kali ini…

Setiap teringat kejadian di Mekkah itu, sy masih selalu bertanya2, akankah sy dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini? Kita sama sekali tak bisa menebak. Beragam kejadian bisa saja terjadi, dan menghalangi perjumpaan kita dengan Ramadhan. Dan entah kenapa, mengingat hal ini, selalu membawa keharuan tersendiri bagi saya.
Acara2 di TV, sosial media, yg ramai2 menyambut Ramadhan, spontan membawa saya untuk selalu berucap dalam hati, Ya Rabb, pertemukan saya dengan Ramadhan kali ini… ku mohon…

Saat memposting tulisan ini, beberapa jam lagi kita memasuki Ramadhan nan Suci. Di sisa waktu ini, tetap terselip harapan Allah betul2 mengijinkan kita untuk menjumpai Ramadhan-Nya.

Dan kepada para sahabat, teman2, kerabat, dan siapapun yg membaca tulisan ini. Dengan segala kerendahan hati sy memohon maaf sedalam2nya, atas segala kekhilafan, baik dalam kata, komentar, maupun tulisan yg kurang berkenan di hati teman2 semua. Semoga kita mampu meraih keberkahan Ramadhan kali ini. Amiin Allahumma Amiin…

Marhaban Yaa Ramadhan… (worship)

*Sore, di kantor, beberapa menit menjelang Maghrib, beberapa saat menuju 1 Ramadhan…

19 Responses

Leave a Reply