Tentang Oche, dan Makna Sahabat

Namanya Oche.
Sy mengenalnya dari blog. Temannya teman saya. Ya dari tag mentag award juga sebenarnya. Sy ngasih award ke teman saya yg ini, kemudian di forward ke dia, dan akhirnya silaturahimnya berjalan sampai saat ini.

Anaknya lucu, postingannya hampir selalu membuat saya ketawa.
Well, sedikit cerita. Dia seorang aseli Trenggalek, Jawa Timur. Bekerja di sebuah perusahaan, yg kemudian membawanya untuk belajar tentang profesinya ini di Jepang. Dan ceritanya tentang kehidupannya di Jepang inilah yg membuat asik untuk selalu diikuti. Dan karena anaknya yg lucu dan (katanya) norak, maka pengalamannya pun tidak jauh2 dari cerita konyol selama di negeri Sakura sana.
Tapi kadang pula sy menemukan kekuatan dari setiap tulisannya. Bagaimana pun dia seorang muslim(ah), yg menjadi kaum minoritas di sana. Dan di balik tulisan ngocolnya dia, seringkali terselip kata2 indah yg mengagumkan.

Satu lagi yg sy perhatikan, hampir setiap beberapa postingan, dia selalu menceritakan tentang Mamanya. Walaupun tidak selalu menjadi tema utama, tapi seringkali sy menemui cerita tentang ibunya itu. Pernah dy menceritakan bahwa dy menulis postingan setelah sms-an dengan Mama, tentang tiba2 dy menangis sehabis tahajud ketika tiba2 teringat dan rindu dengan Mama, tentang dy yg mendadak begitu romantis menulis puisi untuk Mama di hari Ibu kemaren, ah banyaklah pokoknya…

Dan kemaren, tiba2 sy menemui postingannya yg ini, bahwa Mamanya meninggal, setelah 2 pekan dirawat di RS. Ingin rasanya untuk tidak mempercayai berita ini.
Sangat merasa bersalah, karena tidak pernah tau sebelumnya kalo ibunya sakit. Padahal kami berteman di FB, bahkan ada ID-nya dia di list YM saya. Akhir2 ini kami memang jarang ngubrul lagi, padahal sering sy liat lampu YM-nya menyala. Terakhir kami chatting, dy bilang kalo akan pulang ke Indonesia bulan Juni ini. Kami sudah merencanakan akan kopdar, dan saya pun sudah membayangkan pertemuan itu akan berlangsung heboh, mengingat masing2 kami sama2 ributnya.

Ketika buka Fesbuknya dy, di sana sudah banyak ucapan belasungkawa. Aih…
Merasa bersalah, karena tidak pernah menyapanya lagi, bahkan untuk sekedar menanyakan kabarnya, ah…
Untuknya, Roose Diyah Purna Andari aka Oche, semoga diberi ketabahan. I love you.
Tidak banyak yg bisa sy katakan, kerna pun tidak yakin akan sekuat ini jika diberi ujian yg sama. Kehilangan seorang Ibu, ah… sy belum bisa membayangkannya.

Sy kemudian berpikir sendiri, apa saja sebenarnya hak seorang sahabat atas kita? Dan sudahkah kita menunaikannya? Dari sedikit yg sy tau, hak seorang Muslim atas saudaranya antara lain, dijawab salamnya, dijenguk ketika sakit, dihadiri undangannya, dan diberi nasehat serta tidak menyakitinya. CMIIW.

Tidak perlu terlalu rumit sebenarnya. Sederhana saja, sekedar menanyakan kabarnya, sudahkah? Sy cuman merasa kelalaian sy sampe tidak tau kalo Ibunya Oche meninggal dan sempat 2 pekan dirawat di RS adalah karena dari hal sederhana itu. Menanyakan kabar.

Huff.. ternyata belum cukup baik untuk disebut sebagai sahabat. Ini seperti sebuah teguran buat sy, untuk tidak terlalu memikirkan diri sendiri. Untuk lebih peka dengan keadaan sekitar.
Maka, sahabat, jika kita memiliki sahabat lain yg lama tak bersilaturahim dengannya, mungkin ada baiknya kita menghubunginya. Sederhana, cukup tanyakan kabarnya.
Tidak susah sepertinya :)

Ada yg bisa menambahkan apa saja hak seorang sahabat atas diri kita?

38 Responses

Leave a Reply