Tak ada yg berubah dari bangunan itu. Masih seperti yg dulu. Hanya warna catnya yg terlihat lebih baru. Iya, kemaren memang dapat kabar kalo rumah ini baru selese dicat. Kombinasi warnanya pun tak berubah, masih tetap krem-abu abu. Pilihan Ayah. Saat mobil tepat berhenti di depan pagar, kulihat Ibu sudah menungguku di teras rumah. Meskipun sempat ngedumel ga jelas gara-gara keputusanku berangkat malam dari Surabaya, tap Ibu pasti sangat merindukanku. Pastinya. Lihatlah, dia rela tidak tidur untuk menunggu diriku siang itu. Kuraih tangannya, kucium dengan penuh takzim. Ada rasa haru yg membuncah. Luapan rasa rindu untuknya. Tapi seperti biasa pula, ibu tak pernah tahan dengan situasi melow kek gini. Segera ia memberondongku dengan pertanyaan2 seputar kepulanganku.
”Dari bandara sana jam berapa? Sampe Makasar jam berapa? Naek apa dari bandara?”
”Tadi dijemput sama mobil jam berapa?”
”Bosmu tidak bilang apa2ji kau tidak masuk hari ini?” Wedew……..
Kuitari rumah itu. Terakhir kesini ya waktu Ayah meninggal. Ah, memori itu menyeruak lagi. I think I’m strong enough. Ternyata tidak. Setiap sudut rumah menghadirkan kenangan tentang Ayah. Maka yg selanjutnya kulakukan adalah bermain dengan semua memori itu. Biarkan. Biarkanlah…. Read the rest of this entry »




